SuaraSulsel.id - Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Muhyiddin, meminta maaf kepada pihak keluarga siswi SMPN 21 berinisial IRM. Korban dugaan perundungan oleh rekan kelasnya. Hingga terjadi kekeliruan yang ditafsirkan sebagai konten.
"Itu terjadi miskomunikasi, bahwa bahasa saya terkait konten. Saya meminta maaf kepada keluarga besar orang tuanya," ujar Muhyiddin mengklarifikasi melalui keterangan pers melalui video diterima, Jumat 14 Januari 2022.
Ia menjelaskan kejadian tersebut terjadi Jumat, 7 Januari 2021. Pada saat itu, persoalan telah diselesaikan di sekolah melalui guru Bimbingan dan Konseling (BK) bahkan kedua siswa yang berkelahi tersebut sudah didamaikan. Sehingga tidak ada masalah.
Selain itu, peristiwa tersebut di luar lingkungan sekolah, dan bukan pada jam belajar mengajar.
Baca Juga:Viral Foto Bocah di Agam Alami Luka Lebam, Diduga Dianiaya Kakek
Usai kejadian, video yang direkam rekannya kemudian viral di media sosial. Belakangan baru diketahui dan pada 10 Januari 2021 ia langsung mendatangi sekolah SMPN 21 Makassar, Sulawesi Selatan, untuk mencari informasi.
"Kami klarifikasi ke lapangan, dan mengundang orang tua siswa serta Dinas Pemberdayaan Perempuan. Hari itu juga langsung kami konferensi pers terkait dengan hasil klarifikasi kami," ujar mantan Plt. Kadis Sosial Makassar ini meluruskan.
Dari hasil informasi yang dikumpulkan, kata dia, kejadian itu dilatarbelakangi saling ejek antara sesama mereka satu kelas. Peristiwa itu lalu direkam rekannya kemudian belakangan beredar luas di media sosial.
"Namanya anak-anak begitu, di usia kelas dua SMP masih labil. Biasanya anak-anak itu karena ucapan mengejek jadi perkelahian antar mereka," papar Muhyiddin.
Video viral ini kemudian menjadi masalah, berawal dari salah satu diantara siswa di lokasi saat kejadian merekam video dan menganggap sebagai bahan candaan. Lalu dikirim ke media sosial. Dari informasi itulah kemudian ia menyebutkan sebagai konten.
Baca Juga:Potret Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial di SD Negeri Borong Makassar
"Itu salah satu di antara mereka, siswa ini mungkin main-main lalu membuat konten (diunggah) di media sosial. Lalu dia jadikan konten, sehingga saya katakan bahwa ini konten. Tidak ada maksud begitu (memastikan)," paparnya menegaskan.
- 1
- 2