alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Abdul Rahman Mengaku Pinjam Uang Rp 1 M Sebagai Pelicin, Agar Dapat Proyek Pemprov Sulsel

Muhammad Yunus Kamis, 09 September 2021 | 19:03 WIB

Abdul Rahman Mengaku Pinjam Uang Rp 1 M Sebagai Pelicin, Agar Dapat Proyek Pemprov Sulsel
Sidang lanjutan kasus Nurdin Abdullah di Pengadilan Negeri Makassar, Kamis 9 September 2021 [SuaraSulsel.id / Lorensia Clara Tambing]

Saksi kasus dugaan suap proyek infrastruktur di Sulsel

SuaraSulsel.id - Abdul Rahman, Direktur PT Purnama Karya Nugraha mengatakan, harus meminjam uang di bank. Untuk digunakan sebagai "pelicin". Demi mendapatkan proyek Pemprov Sulsel di Kabupaten Sinjai.

Hal itu dikatakan Abdul Rahman, saat menjadi saksi kasus dugaan suap proyek infrastruktur di Sulsel.

Pinjaman dilakukan di Bank Mandiri, kata Rahman, atas perintah Harry Syamsuddin. Sebagai pemilik PT Purnama Karya Nugraha. Abdul Rahman mengaku kenal dengan terdakwa Agung Sucipto sejak tahun 2005.

Proyek yang diinginkan Abdul Rahman adalah irigasi dan kolam di Kabupaten Sinjai. Anggarannya Rp 26 miliar. Proyek itu merupakan bantuan keuangan oleh Pemprov Sulsel untuk Kabupaten Sinjai.

Baca Juga: Pemprov Sulsel Kerahkan 5 Mobil Vaksinasi ke Daerah, Kejar Target Herd Imunity

"Itu bantuan keuangan provinsi ke Sinjai. Anggarannya Rp 26 miliar," kata Abdul Rahman yang dihadirkan secara virtual di ruangan Harifin Tumpa, Pengadilan Negeri Makassar, Kamis, 9 September 2021.

Abdul Rahman mengatakan, Harry sebelumnya sudah bertemu dengan Agung Sucipto membahas proyek tersebut. Saat itu Agung meminta uang Rp 1,05 miliar sebagai panjar. Agar Harry bisa memenangkan proyek itu.

"Saya kemudian mengajukan kredit di Bank Mandiri pagi hari. Cair pada sore hari," beber Abdul Rahman.

Harry kemudian menyerahkan uang itu ke sopir Agung Sucipto yang juga jadi saksi, yakni Nuryadi di Kafe Fire Flies. Selain itu ada proposal untuk pengerjaan proyek tersebut.

"Uangnya ditaruh di plastik hitam. Saya serahkan ke sopir Pak Agung, sementara proposal diserahkan ke Pak Agung. Proposal proyek itu saya tujukan Ke Gubernur Sulsel karena itu proyek provinsi," ujar Abdul Rahman.

Baca Juga: Pengumuman Terbaru Jadwal Ujian Seleksi CASN Pemprov Sulsel 2021

Sebelumnya, Harry Syamsuddin sedianya dihadirkan pada persidangan tersebut. Namun, mangkir.

Ia sebelumnya pernah bersaksi untuk terdakwa Agung Sucipto. Harry mengaku sempat khawatir saat mendengar operasi tangkap tangan KPK terhadap Nurdin Abdullah dan Agung Sucipto.

Ia gelisah. Sebab sebelum OTT, mereka sempat bertemu di Kafe Pancious Jalan Hertasning. Apalagi uang yang diserahkan ke Agung Sucipto itu uang pinjaman dari bank.

Jaksa Penuntut Umum KPK Zaenal Abidin mengatakan, pihaknya tak percaya soal keterangan saksi Abdul Rahman. Dalam BAP saksi, tak ada disebutkan soal pinjaman sama sekali.

Majelis Hakim bahkan meminta JPU agar mengusut keterangan saksi Abdul Rahman. Jika berbohong, maka saksi bisa dipidana.

"Keterangan di pengadilan sangat berbeda jauh dengan keterangan di BAP. Dari keterangan saksi lain bahkan berbeda sendiri," tegas Zaenal.

Abdul Rahman juga tak punya bukti sebagai dasar bahwa uang itu adalah pinjaman. Ia hanya mengaku tak tahu saat dicecar lebih jauh soal pinjaman tersebut.

"Tidak ada akad, tidak ada agunan, tidak ada kwitansi. Tidak ada dasar dia. Makanya hakim mengejar keterangan saksi," tuturnya.

Ditangkap Saat Pulang

Saksi lain, Nuryadi masih ingat betul saat ditangkap oleh tim KPK. Ia menceritakan, saat itu mereka sedang dalam perjalanan pulang ke Bulukumba.

Nuryadi adalah sopir terdakwa Agung Sucipto. Sebelum kejadian, Agung Sucipto sempat memintanya untuk diantar ke Kafe Fireflies Jalan Pattimura, Makassar.

"Sore harinya Pak Agung kasih saya koper warna hijau. Sekitar jam 4 sore di rumah. Dia bilang kasih naik ini koper ke mobil, tapi saya tidak tahu isinya," ungkap Nuryadi.

Koper tersebut kemudian ditaruh di mobil BMW. Mereka melaju ke kafe yang dimaksud.

Saat di kafe, ada dua orang yang datang. Nuryadi mengaku tak mengenali orang tersebut.

"Dia tanya sopirnya Pak Agung. Saya bilang iya. Dia suruh ke mobil Honda jazz, dan ambil uang," bebernya.

Uang itu ditaruh di dalam plastik hitam. Jumlahnya Rp 1 miliar lebih. Nuryadi mengaku sempat diminta menghitung, namun menolak.

"Dia cuma bilang ada uang 1 miliar. Yang kasih saya uang beda dengan orang yang bertemu dengan Pak Agung di kafe (Pancious)," ungkapnya.

Sekitar pukul 21.00 Wita, Agung kemudian memintanya untuk bertemu dengan Edy Rahmat di Rumah Makan Nelayan. Setelah makan mereka menuju ke Taman Macan.

"Uang tadi disuruh kasih pindah ke mobil Edy. Saya disuruh kasih turun koper sama ransel. Agung cuma bilang kasih pindah semua ransel dan koper ke mobil Pak Edy," sebutnya.

Setelah itu, kata Nuryadi, mereka pulang ke rumah Agung Sucipto. Sekitar sejam lebih di rumah Agung, mereka berangkat pulang ke Bulukumba.

"Di perbatasan Jeneponto-Takalar, kami ditahan oleh KPK. KPK suruh turun dari mobil dan kami langsung dibawa oleh KPK," tukas Nuryadi.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait