Kemudian, program BEKUP (Baparekraf for Startup) untuk mendukung pertumbuhan start up digital dan meningkatkan nilai ekonomi digital di Indonesia, melalui mentoring dan up skilling.
Lalu, Kemenparekraf juga akan memfasilitasi pelatihan bagi 600 calon wirausaha muda di 5 destinasi super prioritas dan Bali. Di mana para calon wirausaha muda akan dilatih terkait pitching dan proses matchmaking dengan calon investor.
Dalam kesempatan itu, Menparekraf menceritakan perjalanan bisnisnya. Menurut Menparekraf bisnis yang laris manis adalah bisnis yang dimulai saat krisis.
Ia menjadi pengusaha karena di-PHK pada tahun 1997, dan setelah 25 tahun lebih membangun usaha yang bergerak di bidang keuangan tersebut, ia sudah membuka lapangan kerja bagi 30 ribu lebih karyawan di seluruh Indonesia.
Baca Juga:Darije Kalezic, Eks Nakhoda PSM yang Kini Jadi Pelatih Bagus Kahfi di Jong Utrecht
“Untuk itu, saya titip kepada mahasiswa agar 3G, yakni gercep, kita harus gerak cepat. Geber, gerak bersama, kita bisa faster sendiri tapi kita bisa longer kalau gerak bersama. Terakhir gaspol, garap semua potensi yang bisa kita lakukan untuk membangun negeri,” tukasnya.
Anggota Komisi XI DPR RI Kamrussamad menegaskan, kendala yang dihadapi pebisnis pemula adalah masalah pendanaan.
Menurutnya, ada beberapa sumber pembiayaan non perbankan atau pembiayaan diluar perbankan itu jauh lebih prospektif yaitu adanya pelayanan crowd founding.
“Ini baru kita luncurkan januari 2021 kemarin dengan Bursa efek Indonesia,” katanya.
Menurutnya, ini bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa yang memang tidak ada jaminan atau masih menjadi incubator bisnis baru maka akan dibantu sesusai kebutuhan. Maka secara tutorial maka bisa dibantu bagaimana untuk mendapatkan modal yang bisa didapatkan oleh mahasiswa.
Baca Juga:Ratusan Warga Korban Kebakaran di Kompleks Lepping Makassar Butuh Fasilitas MCK
“Maka kita bisa lakukan tutorial dengan BEI untuk meningkatkan inkubator bisnis bagi mahasiswa,” katanya.