Komisaris Kimia Farma : Semua Karyawan yang Pakai Alat Bekas Dipecat

Prof Abdul Kadir meminta petugas kesehatan tidak menggunakan alat swab atau Cotton Bud bekas

Muhammad Yunus
Minggu, 02 Mei 2021 | 05:26 WIB
Komisaris Kimia Farma : Semua Karyawan yang Pakai Alat Bekas Dipecat
Komisaris Utama PT Kimia Farma Prof Abdul Kadir / [SuaraSulsel.id]

SuaraSulsel.id - Direktur Jenderal (Dirjen) Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan sekaligus Komisaris Utama Kimia Farma Prof Abdul Kadir meminta petugas kesehatan tidak menggunakan alat swab atau Cotton Bud bekas.

Sebab, alat bekas dinilai sangat berbahaya dan dapat menularkan virus Corona atau Covid-19 kepada orang lain saat diperiksa.

"Pada prinsipnya kan itu sesuatu yang sangat berbahaya. Karena itu akan menularkan virus yang tadi positif kepada orang lain. Karena menggunakan swab atau cotton bud bekas. Oleh karena itu sangat tidak dianjurkan," kata Abdul Kadir, Sabtu 1 Mei 2021.

Abdul Kadir menegaskan para pelaku yang tertangkap melakukan pemeriksaan baik rapid test, swab, dan vaksinasi dengan menggunakan alat bekas akan diberikan sanksi yang sangat berat dari pemerintah.

Baca Juga:Polda Sumut soal Kasus Tes Antigen Bekas: Kemungkinan Ada Tersangka Baru

Abdul Kadir mengaku telah berkoordinasi dengan manajer Kimia Farma di Medan, Sumatera Utara. Untuk memecat semua karyawan yang melakukan daur ulang alat rapid test antigen Covid-19.

Menurut Abdul Kadir, dalam kasus daur ulang alat rapid test antigen Covid-19 di Medan tersebut bukanlah kebijakan dari Kimia Farma. Para pelaku yang terlibat kasus itu merupakan oknum-oknum yang harus diberikan sanksi yang sangat berat.

"Dan juga sebagai komisaris utama kami juga berkoordinasi dengan manajer di Medan, Sumatera Utara. Untuk memberhentikan dan memecat semua karyawan sebagai pelaku itu. Itu sama sekali bukan kebijakan dari Kimia Farma. Tapi itu adalah oknum yang bermain," tegas Abdul Kadir.

Dengan adanya kejadian itu, kata Abdul Kadir, seluruh klinik-klinik dan laboratorium yang melaksanakan pemeriksaan PCR harus mengikuti standarisasi yang telah diputuskan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan atau Badan Litbangkes.

"Harus mengikuti standarisasi yang diputuskan Litbangkes. Yang tentunya sesuai prosedur yang ditentukan," jelas Abdul Kadir.

Baca Juga:Kasus Tes Antigen Bekas, Kimia Farma Pecat Petugas Berstatus Tersangka

Selain itu, Abdul Kadir juga berharap agar semua masyarakat umum yang ingin melakukan Swab dapat menanyakan lebih dahulu kepada petugas. Sebelum diperiksa.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini