alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Divisi Lingkungan Hidup GenBI Unhas Belajar Energi Terbarukan di Jeneponto

Muhammad Yunus Senin, 30 November 2020 | 20:05 WIB

Divisi Lingkungan Hidup GenBI Unhas Belajar Energi Terbarukan di Jeneponto
Divisi Lingkungan Hidup Generasi Baru Indonesia Komisariat Universitas Hasanuddin mengadakan kegiatan GenViber (GenBI Visit on Renewable Energy) di Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Tolo 1 Jeneponto, Senin 30 November 2020 / [Foto: GenBI]

Potensi energi terbarukan di Indonesia seperti angin, air, matahari dan panas bumi sangat melimpah

SuaraSulsel.id - Perubahan iklim merupakan masalah yang sangat serius saat ini. Karena memiliki dampak sangat luas bagi kehidupan masyarakat.

Perubahan iklim tidak hanya akan berdampak pada meningkatnya suhu di permukaan bumi. Tetapi juga mempengaruhi berbagai aspek pada perubahan alam dan kehidupan manusia.

Seperti kualitas dan kuantitas air, habitat, hutan, kesehatan, lahan pertanian dan ekosistem wilayah pesisir.

Sejak tahun 2003, Indonesia berubah status dari negara pengekspor atau eksportir minyak dunia, menjadi negara importir minyak.

Baca Juga: Ini Alasan Pemerintah Harus Mencabut Subsidi BBM Berbahan Fosil

Hal ini menandakan bahwa kebutuhan Indonesia akan bahan bakar minyak sangatlah besar. Hingga tidak mampu lagi dipenuhi dari sumber sendiri.

Pengunaan bahan bakar minyak atau bahan bakar fosil sendiri akan menghasilkan efek gas rumah kaca, yang menjadi salah-satu faktor utama perubahan iklim bumi.

Energi terbarukan merupakan energi yang dihasilkan dari proses alami. Sehingga energi ini tidak dapat habis dan akan terus menerus diperbaharui.

Potensi energi terbarukan di Indonesia seperti angin, air, matahari dan panas bumi sangat melimpah.

Namun, pemenuhan 92% energi Indonesia masih disuplai oleh energi fosil. Sedangkan energi terbarukan hanya menyumbang 8%.

Baca Juga: Ketua KPU Jeneponto Tidak Terima Sanksi Pemecatan DKPP, Tempuh Jalur Ini

Indonesia sendiri menargetkan penggunaan energi terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025 seperti yang tertuang dalam Paris Agreement.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait