- Peneliti menemukan lukisan cap tangan berumur 67.800 tahun di gua karst Sulawesi yang membantah teori bahwa seni purba bermula dari Eropa.
- Arkeolog mengungkapkan bahwa gambar jari runcing dan hewan di dinding gua tersebut merupakan arsip strategi perburuan kelompok serta simbol ritual magis.
- Penemuan penting di kawasan Wallacea ini menghadapi ancaman nyata akibat aktivitas penambangan semen dan dampak perubahan iklim global saat ini.
SuaraSulsel.id - Di kedalaman gua-gua kapur Sulawesi yang lembap, sebuah kode visual berusia 67.000 tahun mengungkap rahasia besar. Manusia modern awal bukan sekadar pengembara, melainkan arsitek strategi berburu yang kompleks.
Di dinding gua yang dingin dan sunyi di kawasan karst Sulawesi, sebuah bayangan merah marun menolak untuk pudar. Itu adalah cetakan tangan manusia. Namun, ada yang ganjil.
Jari-jemarinya tidak tumpul seperti milik kita. Ujung-ujungnya meruncing, menyerupai cakar predator yang siap menerkam.
Selama puluhan tahun, Eropa dianggap sebagai tempat kelahiran kecerdasan simbolik manusia. Namun, penemuan terbaru dari jantung Nusantara ini menghancurkan narasi tersebut.
Dengan penanggalan uranium-series yang menunjukkan angka mencengangkan ±67.800 tahun lalu lukisan ini bukan hanya seni tertua, melainkan sebuah "buku manual" teknologi dan organisasi sosial dari masa silam.
Menggeser Kiblat Peradaban
"Teori yang selama ini kita pelajari melalui buku-buku bahwa lukisan tertua bermula di Eropa itu kemudian terbantahkan," ujar Prof. Akin Duli, arkeolog senior dari Universitas Hasanuddin Makassar.
Menurut Prof. Akin, angka 67.800 tahun ini jauh melampaui temuan di Spanyol yang berada di kisaran 66.000 tahun, itu pun dengan metode validasi yang masih sering diperdebatkan oleh para ahli dunia.
"Sulawesi, yang masuk kawasan Wallacea ini, memegang peranan penting. Bukti ini menjadi dasar kita membantah bahwa budaya melukis gua berasal dari Eropa," tambahnya.
Baca Juga: Penelitian Baru Ungkap Akar Budaya Toalean di Sulawesi Selatan
Menggugat 'Eropa-Sentris'
Penemuan ini memiliki dampak geopolitik pengetahuan yang masif. Selama ini, teori Out of Europe mendominasi narasi bahwa kapasitas intelektual dan seni manusia berkembang pesat di Barat sebelum menyebar ke belahan dunia lain.
"Asal-usul keindahan itu bukan klaim Eropa saja," tegas Dr. Muhammad Nur. "Teori bahwa keindahan keluar dari Eropa itu yang sebenarnya tergugat. Seni itu inherent (melekat) di dalam tubuh manusia. Rasa keindahan ada bersama sifat amarah atau tertawa. Manusia di mana saja berpotensi melahirkan itu."
Temuan di Sulawesi mendukung Teori Multi-regional, yang menyatakan bahwa lompatan kognitif atau kemampuan menggambar, berburu secara kolektif, dan melakukan ritual itu terjadi secara simultan di berbagai belahan dunia, termasuk Nusantara.
Bukan Sekadar Seni, Tapi Instruksi
Para arkeolog kini melihat lukisan-lukisan ini dengan kacamata baru. Bukan lagi sebagai coretan estetik tanpa makna, melainkan sebagai arsip teknologi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Andre Taulany Resmi Nikahi Amanda Rigby, Mantan Istri Erin: Hamil Duluan Kali
- Kiai Sahal Gontor ke Prabowo: Saya Ngomong Agak Tidak Enak, Sorry ye...
- Sah Nikahi Amanda Rigby, Ramalan Lama Hard Gumay Tentang Asmara Andre Taulany Jadi Kenyataan?
- Erin Taulany Klarifikasi Soal Komentar Hamil Duluan: Sumpah Demi Allah Akun Saya Dibajak
- Media Israel Sindir Presiden Prabowo: Setahun Lalu Dukung Kami Sekarang Teriak Free Palestina
Pilihan
-
Siswa SD Tewas Tersedak Menu MBG, JPPI Soroti SOP Keamanan Makanan hingga Penanganan Darurat
-
MBG Makan Korban Lagi, Siswa SD Lampung Meninggal Tersedak Menu Kelengkeng
-
Miras Oplosan Tewaskan 4 Orang di Cianjur, 2 Korban Masih Kritis
-
Tangis Ibrahim al-Madani Saat Pertama Azan di Masjidil Haram, Sang Muazin Tutup Usia di 51 Tahun
-
Merumuskan Kembali Bisnis Media Masa Depan di Local Media Summit 2026
Terkini
-
Misteri Jari Runcing Manusia Purba Sulawesi, Bertahan 67.000 Tahun Tanpa Luntur
-
Ke Pestapora 2026 Jadi Lebih Ringan Berkat Cicilan 0% BRI Kartu Kredit
-
Disokong China, Ini Kabar Terbaru Proyek Megah Bendungan Jenelata Gowa Rp4,15 Triliun
-
PI Migas Sengkang Naik Jadi 10 Persen, Pemprov Sulsel dan Wajo Dapat 'Durian Runtuh'
-
Pemkot Kendari Resmi Larang Pengecer Jual BBM Subsidi