Muhammad Yunus
Rabu, 23 September 2026 | 12:50 WIB
Para arkeolog melihat lukisan-lukisan di Gua Karst Pulau Sulawesi dengan cara baru [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Baca 10 detik
  • Peneliti menemukan lukisan cap tangan berumur 67.800 tahun di gua karst Sulawesi yang membantah teori bahwa seni purba bermula dari Eropa.
  • Arkeolog mengungkapkan bahwa gambar jari runcing dan hewan di dinding gua tersebut merupakan arsip strategi perburuan kelompok serta simbol ritual magis.
  • Penemuan penting di kawasan Wallacea ini menghadapi ancaman nyata akibat aktivitas penambangan semen dan dampak perubahan iklim global saat ini.

SuaraSulsel.id - Di kedalaman gua-gua kapur Sulawesi yang lembap, sebuah kode visual berusia 67.000 tahun mengungkap rahasia besar. Manusia modern awal bukan sekadar pengembara, melainkan arsitek strategi berburu yang kompleks.

Di dinding gua yang dingin dan sunyi di kawasan karst Sulawesi, sebuah bayangan merah marun menolak untuk pudar. Itu adalah cetakan tangan manusia. Namun, ada yang ganjil.

Jari-jemarinya tidak tumpul seperti milik kita. Ujung-ujungnya meruncing, menyerupai cakar predator yang siap menerkam.

Selama puluhan tahun, Eropa dianggap sebagai tempat kelahiran kecerdasan simbolik manusia. Namun, penemuan terbaru dari jantung Nusantara ini menghancurkan narasi tersebut.

Dengan penanggalan uranium-series yang menunjukkan angka mencengangkan ±67.800 tahun lalu lukisan ini bukan hanya seni tertua, melainkan sebuah "buku manual" teknologi dan organisasi sosial dari masa silam.

Menggeser Kiblat Peradaban

"Teori yang selama ini kita pelajari melalui buku-buku bahwa lukisan tertua bermula di Eropa itu kemudian terbantahkan," ujar Prof. Akin Duli, arkeolog senior dari Universitas Hasanuddin Makassar.

Menurut Prof. Akin, angka 67.800 tahun ini jauh melampaui temuan di Spanyol yang berada di kisaran 66.000 tahun, itu pun dengan metode validasi yang masih sering diperdebatkan oleh para ahli dunia.

"Sulawesi, yang masuk kawasan Wallacea ini, memegang peranan penting. Bukti ini menjadi dasar kita membantah bahwa budaya melukis gua berasal dari Eropa," tambahnya.

Baca Juga: Penelitian Baru Ungkap Akar Budaya Toalean di Sulawesi Selatan

Para arkeolog melihat lukisan-lukisan di Gua Karst Pulau Sulawesi dengan cara baru [SuaraSulsel.id/Istimewa]

Menggugat 'Eropa-Sentris'

Penemuan ini memiliki dampak geopolitik pengetahuan yang masif. Selama ini, teori Out of Europe mendominasi narasi bahwa kapasitas intelektual dan seni manusia berkembang pesat di Barat sebelum menyebar ke belahan dunia lain.

"Asal-usul keindahan itu bukan klaim Eropa saja," tegas Dr. Muhammad Nur. "Teori bahwa keindahan keluar dari Eropa itu yang sebenarnya tergugat. Seni itu inherent (melekat) di dalam tubuh manusia. Rasa keindahan ada bersama sifat amarah atau tertawa. Manusia di mana saja berpotensi melahirkan itu."

Temuan di Sulawesi mendukung Teori Multi-regional, yang menyatakan bahwa lompatan kognitif atau kemampuan menggambar, berburu secara kolektif, dan melakukan ritual itu terjadi secara simultan di berbagai belahan dunia, termasuk Nusantara.

Bukan Sekadar Seni, Tapi Instruksi

Para arkeolog kini melihat lukisan-lukisan ini dengan kacamata baru. Bukan lagi sebagai coretan estetik tanpa makna, melainkan sebagai arsip teknologi.

Load More