Muhammad Yunus
Senin, 04 Mei 2026 | 08:05 WIB
Tradisi tutur Sinrilik mulai diperkuat di Kabupaten Gowa [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Baca 10 detik
  • Pemerintah Kabupaten Gowa resmi membuka Sekolah Sinrilik Angkatan I di Desa Maccini Baji pada Sabtu, 2 Mei.
  • Program ini bertujuan melestarikan tradisi lisan Sinrilik yang terancam punah akibat minimnya regenerasi penutur dan minat pemuda.
  • Pelatihan ini mengintegrasikan teknik bertutur dengan nilai budaya agar Sinrilik tetap relevan di tengah masyarakat modern.

SuaraSulsel.id - Upaya menjaga tradisi tutur Sinrilik mulai diperkuat di Kabupaten Gowa. Salah satunya melalui pembukaan Sekolah Sinrilik Angkatan I yang digelar di Sanggar Bakti Antara Nusantara, Desa Maccini Baji, Kecamatan Bajeng, Sabtu (2/5).

Langkah ini menjadi respons atas semakin terbatasnya jumlah penutur atau passinrilik yang mampu membawakan cerita secara utuh, sekaligus menjawab tantangan rendahnya minat generasi muda terhadap tradisi lisan.

Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, menegaskan sinrilik bukan sekadar seni tutur, melainkan bagian penting dari identitas masyarakat.

“Sinrilik adalah pustaka berjalan yang memuat sejarah, nilai kepahlawanan, hingga etika hidup orang Gowa. Jika ia hilang, maka hilang pula jejak jati diri kita,” ujarnya.

Menurutnya, kehadiran Sekolah Sinrilik menjadi langkah konkret untuk menjaga keberlanjutan tradisi tersebut.

Program ini dirancang tidak hanya mengajarkan teknik bertutur, tetapi juga memperdalam pemahaman makna dan nilai yang terkandung di dalamnya.

“Sekolah Sinrilik menjadi ruang belajar yang menghubungkan teknik, pemaknaan, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan pakem,” lanjutnya.

Ia berharap peserta angkatan pertama mampu menjadi generasi penerus yang menjaga dan menghidupkan kembali sinrilik di berbagai ruang, mulai dari sekolah hingga panggung budaya.

Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX Sulawesi Selatan, Sinatriyo Danuhadiningrat, menekankan pentingnya pendekatan sistematis dalam pelestarian budaya.

Baca Juga: 9 Hari Disandera Perompak Somalia, Kapten Kapal Honour 25 Asal Gowa Sebut Logistik Menipis

Menurutnya, tradisi lisan seperti sinrilik perlu didukung dengan pendataan, dokumentasi, dan pengarsipan yang berkelanjutan agar tetap terjaga dan bisa diakses lintas generasi.

“Pelestarian budaya membutuhkan kerja yang terstruktur agar tidak hilang ditelan zaman,” jelasnya.

Tradisi tutur Sinrilik mulai diperkuat di Kabupaten Gowa lewat sekolah [SuaraSulsel.id/Istimewa]

Di sisi lain, akademisi Muhammad Thahir mengingatkan bahwa tradisi tidak cukup hanya diwariskan, tetapi juga harus dihidupkan dalam konteks kekinian.

“Sinrilik perlu diberi ruang untuk tumbuh di tengah masyarakat modern, dengan pendekatan baru tanpa kehilangan ruhnya,” ujarnya.

Pembukaan Sekolah Sinrilik ini diharapkan menjadi titik awal penguatan tradisi lisan di Gowa.

Dengan melibatkan pemerintah, komunitas, dan akademisi, sinrilik diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang sebagai bagian dari kehidupan masyarakat masa kini.

Load More