Muhammad Yunus
Rabu, 09 September 2026 | 17:08 WIB
Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa meminta pusat studi Kepolisian Universitas Hasanuddin menjadikan praktik penangkapan ikan dengan bahan peledak sebagai salah satu kajian awal, Rabu 9 September 2026 [SuaraSulsel.id/Unhas]
Baca 10 detik
  • Rektor Unhas meluncurkan Pusat Studi Kepolisian pada Rabu, 9 September 2026, untuk mengkaji pengeboman ikan di perairan Sulawesi Selatan.
  • Kapolda Sulawesi Selatan menyatakan hasil riset pusat studi tersebut akan menjadi acuan penyusunan kebijakan kepolisian berbasis data.
  • Kolaborasi akademisi dan kepolisian ini bertujuan mencari solusi efektif menangani masalah perairan melalui pendekatan lintas disiplin ilmu.

Polisi dan Akademisi Cari Solusi Berbasis Data

Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro menyambut pembentukan pusat studi tersebut.

Ia berharap penelitian yang dihasilkan dapat digunakan sebagai dasar dalam penyusunan kebijakan dan pelaksanaan tugas kepolisian.

“Setiap hasil penelitian dari pusat studi akan menjadi acuan kami. Jadi, kita tidak hanya berdasarkan rutinitas dan pengalaman, tetapi berpacu pada data dan hasil penelitian,” kata Djuhandhani.

Ia mengakui persoalan pelanggaran di wilayah perairan, termasuk pengeboman ikan, bukan perkara sederhana.

Kepolisian telah melakukan berbagai langkah, mulai dari sosialisasi hingga pemantauan.

Namun, upaya tersebut dinilai masih membutuhkan dukungan pemikiran dan kajian bersama untuk menemukan solusi yang lebih efektif.

Karena itu, kolaborasi antara kepolisian dan akademisi dinilai penting agar penanganan persoalan di wilayah perairan tidak hanya bertumpu pada penindakan, tetapi juga menghasilkan kebijakan yang didasarkan pada data dan penelitian.

Sementara itu, Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Kalemdiklat) Mabes Polri Komjen Pol. Prof. Chryshnanda Dwilaksana menilai pusat studi memiliki peran fundamental dalam mendorong kepolisian yang semakin presisi dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Baca Juga: Polisi Jabar Obrak-abrik 'Passobis' di Sulsel, Begini Respons Ustadz Das'ad Latif

“Polisi yang baik adalah polisi yang cocok dengan masyarakatnya. Karena itu, polisi dituntut untuk presisi. Apa yang disampaikan perlu dikaji, sehingga peran pusat kajian kepolisian menjadi fundamental,” ujar Chryshnanda.

Peluncuran Pusat Studi Kepolisian Unhas turut dihadiri Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa, Kapolda Sulsel Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro, serta sejumlah pejabat Mabes Polri, di antaranya Irjen Pol. Gatot Repli Handoko, Irjen Pol. Susilo Teguh Raharjo, dan Irjen Pol. Umar Efendi.

Ke depan, pusat studi tersebut diharapkan menjadi ruang pertemuan antara riset akademik dan praktik kepolisian.

Salah satu pekerjaan awal yang kini mendapat sorotan adalah mencari formula yang lebih efektif untuk menangani pengeboman ikan sekaligus menjaga keamanan dan keberlanjutan sumber daya perairan.

Load More