Muhammad Yunus
Senin, 01 Juni 2026 | 20:06 WIB
Gunung Lokon di Sulawesi Utara
Baca 10 detik
  • Kementerian ESDM menetapkan status Gunung Lokon di Kota Tomohon pada Level II Waspada per 15 Mei 2026.
  • Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan untuk menghindari risiko gas beracun serta erupsi.
  • Warga di sekitar alur sungai perlu mewaspadai ancaman lahar saat terjadi hujan deras di kawasan puncak gunung.

SuaraSulsel.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengingatkan masyarakat, pengunjung, wisatawan, serta pendaki agar tidak beraktivitas maupun mendekati area dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan-Gunung Lokon di Kota Tomohon, Sulawesi Utara.

"Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh hingga 15 Mei 2026, tingkat aktivitas Gunung Lokon masih berada pada Level II (Waspada)," kata Pelaksana Tugas Badan Geologi Lana Saria dalam laporan aktivitas Gunung Lokon yang diterima ANTARA di Manado, Minggu (31/5).

Berdasarkan pengamatan instrumental, kegempaan selama periode 1-15 Mei 2026 terekam sebanyak 33 kali gempa embusan, 54 kali gempa vulkanik dangkal, tujuh kali gempa vulkanik dalam, dan 98 kali gempa tektonik jauh.

Berdasarkan pengamatan visual aktivitas Gunung Lokon, teramati embusan asap putih tipis dengan tinggi maksimum sekitar 25 meter di atas kawah. Sinar api juga tampak di dasar kawah pada 15 Mei 2026.

Kegempaan Gunung Lokon didominasi oleh gempa vulkanik dangkal (VB), sedangkan gempa vulkanik dalam (VA) jarang terekam.

Aktivitas vulkanik berdasarkan data visual dan seismik belum menunjukkan adanya peningkatan.

Sementara itu, potensi bahaya aktivitas Gunung Lokon saat ini adalah kemungkinan keluarnya gas beracun yang sewaktu-waktu dapat muncul dari kawah.

Selain itu, erupsi freatik, yaitu erupsi yang diakibatkan oleh kontak antara uap panas magma dan air hidrotermal, juga dapat terjadi secara tiba-tiba.

"Masyarakat yang berada di sekitar alur sungai yang berhulu di puncak Gunung Lokon agar mewaspadai kemungkinan terjadinya lahar pada musim hujan atau saat hujan deras berlangsung lama di kawasan puncak," ujarnya.

Baca Juga: Gubernur Sulut Tegaskan Tidak Alergi Dikoreksi Wartawan: Saya Butuh Itu!

Load More