- Sembilan WNI ditangkap pasukan Israel saat mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Jalur Gaza di Mediterania.
- Relawan dan jurnalis Indonesia tersebut ditangkap oleh otoritas Israel ketika berada di perairan internasional dekat Siprus.
- Pemerintah Indonesia sedang melakukan koordinasi untuk memastikan keselamatan serta mengupayakan pembebasan seluruh relawan yang telah ditahan tersebut.
Menurutnya, kapal-kapal relawan dicegat saat masih berada di perairan internasional.
"Tindakan ini jelas melanggar hukum internasional dan prinsip-prinsip hak asasi manusia," kata Irvan dalam keterangannya.
Ia menegaskan pihaknya mengutuk keras penangkapan para relawan, terlebih salah satu peserta yang ikut dalam misi itu merupakan relawan Rumah Zakat asal Indonesia.
Keberangkatan para aktivis Indonesia dalam konvoi internasional itu telah direncanakan jauh hari dan dilakukan secara terbuka.
Global Peace Convoy Indonesia, kata dia, juga telah menyampaikan pemberitahuan resmi terkait misi tersebut kepada sejumlah pihak di Indonesia, termasuk Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan.
"Itu bagian dari upaya kami menyampaikan niat baik para peserta Global Sumud Flotilla yang mewakili solidaritas masyarakat Indonesia untuk rakyat Palestina," ujarnya.
Di tengah perjalanan menuju Gaza, armada tersebut justru dicegat oleh pasukan Israel. Irvan mengatakan pihaknya langsung melakukan langkah koordinasi begitu menerima kabar penangkapan para relawan.
"Begitu mendapatkan kabar itu, secepatnya kami berkoordinasi dengan pemerintah Indonesia untuk memastikan keselamatan para relawan dan berharap misi kemanusiaan ini tetap dapat tercapai," katanya.
Hingga Selasa malam, Rumah Zakat bersama GPCI masih terus memantau perkembangan situasi para relawan Indonesia di Mediterania Timur.
Baca Juga: Diserang Usai Bungkam PSM Makassar, Begini Kondisi Terkini Skuad Persib Bandung
Pendampingan juga disebut terus diberikan kepada keluarga relawan, termasuk keluarga Andi Angga Prasadewa di Makassar.
Penangkapan relawan kemanusiaan ini kembali memunculkan sorotan internasional terhadap ketegangan di kawasan Gaza dan pembatasan akses bantuan kemanusiaan menuju wilayah tersebut.
Sejak agresi Israel kembali meningkat, berbagai organisasi kemanusiaan internasional berupaya membuka jalur bantuan untuk warga sipil Gaza yang terdampak perang, krisis pangan, dan keterbatasan layanan kesehatan.
Namun, sejumlah misi bantuan melalui jalur laut maupun darat kerap menghadapi hambatan keamanan dan pembatasan akses dari pihak Israel.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Mau Tambah Daya Listrik Rumah? PLN Beri Diskon 50% Spesial Kemerdekaan, Cuma Sampai Tanggal Ini
-
Kebijakan Baru Pemkot Makassar Bikin Pusing Pemulung dan Pengangkut Sampah
-
Naik Hercules TNI AU, 30 Ton Bantuan Pemprov Sulsel Meluncur ke Titik Gempa NTT
-
Kado Kemerdekaan, Gubernur Sultra Turunkan Pajak Kendaraan Lama hingga 23 Persen
-
Tanggap Gempa NTT, BRI Peduli Hadirkan 3 Posko Logistik dan 1 Dapur Umum