- Deputi Bappenas Maliki meminta Pemerintah Provinsi Gorontalo segera bersiap menghadapi fenomena penuaan penduduk berdasarkan proyeksi data kependudukan daerah.
- Pergeseran usia perkawinan dan perubahan pola hidup masyarakat di Gorontalo memengaruhi dinamika angka kematian bayi pada periode tertentu.
- Pemerintah daerah perlu menyusun kebijakan berbasis data untuk memastikan masyarakat tetap sehat dan produktif menuju target pembangunan nasional.
SuaraSulsel.id - Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan dan Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas RI, Maliki, mengingatkan Provinsi Gorontalo untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi fenomena penuaan penduduk berdasarkan dinamika yang terlihat dari data kependudukan daerah.
Hal itu disampaikan Maliki saat berkunjung ke Gorontalo dan memaparkan kondisi data kependudukan daerah dalam sambutannya saat menghadiri agenda peluncuran oleh data data Gorontalo.
Menurut dia, data menjadi tantangan sekaligus kunci dalam mendukung keberhasilan pencapaian target pembangunan nasional maupun daerah karena dapat membaca berbagai perubahan sosial masyarakat.
“Dari satu data saja, begitu banyak cerita dan arah kebijakan yang dapat dibaca dan disusun,” kata Maliki, Senin (18/5).
Ia menjelaskan, struktur penduduk Gorontalo saat ini masih menyerupai piramida penduduk pada umumnya.
Namun terdapat bagian yang tampak lebih ramping pada kelompok perempuan usia 10 hingga 14 tahun.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan adanya fenomena yang tidak lazim dan perlu dicermati lebih jauh oleh pemerintah daerah.
Dari hasil penelusuran data, lanjut dia, terlihat adanya perubahan pola usia perkawinan masyarakat.
Jika sebelumnya rata-rata usia perkawinan berada di kisaran 20 tahun, kini bergeser menjadi sekitar 25 tahun bahkan lebih.
Baca Juga: 9 Langkah Antisipasi Warga Gorontalo Utara Menghadapi Kemarau Panjang
Pergeseran usia perkawinan itu berdampak pada penundaan kelahiran, terutama pada periode 2010 hingga 2015.
Selain itu, perubahan pola hidup masyarakat juga terlihat dari semakin pendeknya periode ibu menyusui anaknya.
Kondisi tersebut, kata dia, turut memengaruhi dinamika angka kematian bayi pada periode tertentu.
“Fenomena tersebut menjadi salah satu faktor yang memunculkan angka kematian bayi relatif lebih tinggi pada periode tertentu,” katanya.
Maliki mengatakan berbagai dinamika tersebut menunjukkan bahwa data tidak hanya sekadar angka statistik, tetapi juga mampu menggambarkan perubahan perilaku dan kondisi sosial masyarakat.
Ia menambahkan, berdasarkan tren data kependudukan, Gorontalo ke depan diproyeksikan akan menghadapi fenomena penuaan penduduk, di mana proporsi usia produktif perlahan akan bergeser menuju kelompok usia lanjut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Ngeri! Layangan Tersangkut di Pesawat Saat Mendarat di Bandara Hasanuddin
-
Masih Bayar Lebih Saat Pakai QRIS? BI Sulsel Tegaskan Pedagang Tak Boleh Lakukan Ini
-
Ini Wajah Baru Ruas Jalan Pangkajene-Rappang yang Ramah Pejalan Kaki
-
Desain Ulang Jembatan Barombong, Konsep Kembar Berubah?
-
KKB Bakar Pesawat di Kabupaten Yahukimo, Pilot Dikabarkan Tewas