Muhammad Yunus
Selasa, 05 Mei 2026 | 12:22 WIB
Aktivitas bongkar muat barang ekspor dan impor di Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan. BPS mencatat ekspor Sulsel pada Januari-Maret 2026 anjlok [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Baca 10 detik
  • BPS mencatat nilai ekspor Sulawesi Selatan periode Januari-Maret 2026 mengalami penurunan sebesar 13,26 persen akibat melemahnya permintaan komoditas.
  • Penurunan ekspor nikel, besi, dan baja secara signifikan berdampak pada rendahnya performa perdagangan di wilayah Sulawesi Selatan tersebut.
  • Pemerintah daerah mendorong diversifikasi pasar ekspor untuk mengurangi ketergantungan pada negara tujuan tertentu di tengah fluktuasi global.

SuaraSulsel.id - Kinerja ekspor Sulawesi Selatan pada awal 2026 menunjukkan tekanan yang cukup signifikan terutama pada komoditas unggulan nikel.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel mencatat nilai ekspor mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini dipicu melemahnya permintaan dan turunnya kinerja sejumlah komoditas utama.

Kepala BPS Sulsel, Aryanto menjelaskan pada periode Januari-Maret 2026, nikel masih menjadi komoditas dengan kontribusi ekspor terbesar.

Pada Maret 2026 saja, nilai ekspor nikel mencapai US$73,59 juta atau setara 64,61 persen dari total ekspor Sulawesi Selatan.

Di bawah nikel, komoditas lain yang turut menopang ekspor antara lain biji-bijian berminyak sebesar US$9,20 juta (8,08 persen), garam, belerang, dan kapur sebesar US$6,79 juta (5,96 persen), besi dan baja sebesar US$5,84 juta (5,13 persen), serta ikan dan udang sebesar US$5,49 juta (4,82 persen).

Namun, jika dibandingkan dengan Februari 2026, terjadi penurunan signifikan pada ekspor nikel, yakni sebesar 28,84 persen.

Penurunan juga terjadi pada komoditas besi dan baja yang turun 15,65 persen.

"Sebaliknya, beberapa komoditas lain justru mengalami peningkatan, seperti biji-bijian berminyak yang naik 38,93 persen, garam dan belerang naik 41,52 persen, serta ikan dan udang melonjak hingga 55,68 persen," kata Aryanto, Selasa, 5 Mei 2026.

Secara kumulatif, kinerja ekspor Sulawesi Selatan pada Januari-Maret 2026 juga menunjukkan tren penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai ekspor tercatat turun sebesar US$49,49 juta atau 13,26 persen.

Baca Juga: Harga Nikel Tertekan, PT Vale Klaim Operasional Tetap Stabil

Penurunan ini terutama disebabkan oleh anjloknya ekspor besi dan baja yang turun hingga US$64,85 juta atau 76,15 persen, serta penurunan ekspor nikel sebesar US$8,88 juta atau 4,35 persen.

Kondisi ini memperlihatkan tingginya ketergantungan ekspor Sulsel terhadap komoditas berbasis sumber daya alam yang rentan terhadap fluktuasi pasar global.

Dari sisi negara tujuan, Jepang masih menjadi primadona utama ekspor Sulawesi Selatan pada Maret 2026 dengan nilai mencapai US$76,73 juta atau 67,36 persen dari total ekspor.

Diikuti oleh Tiongkok sebesar US$24,43 juta (21,45 persen), Taiwan sebesar US$4,14 juta (3,64 persen), Amerika Serikat sebesar US$2,25 juta (1,98 persen), dan Bangladesh sebesar US$1,84 juta (1,62 persen).

Namun, jika dibandingkan bulan sebelumnya, ekspor ke Jepang dan Tiongkok sama-sama mengalami penurunan. Masing-masing sebesar 26,96 persen dan 10,83 persen.

Sementara itu, ekspor ke Taiwan dan Amerika Serikat justru meningkat tajam. Masing-masing sebesar 90,34 persen dan 93,05 persen, meski kontribusinya masih relatif kecil terhadap total ekspor.

Load More