Muhammad Yunus
Selasa, 03 Maret 2026 | 10:00 WIB
Ilustrasi Nikel [Suara.com/Antara]
Baca 10 detik
  • PT Vale Indonesia mencatat produksi nikel matte stabil 66.848 ton (naik 3%) dan pendapatan US$902 juta hingga November 2025.
  • Investasi hilirisasi seperti Proyek Pomalaa (65% progres) dan Morowali (99% progres) bertujuan memperkuat rantai pasok global.
  • Perusahaan menunjukkan komitmen lingkungan dengan 50% area tambang direklamasi dan ESG Risk Rating terendah di sektor pertambangan nasional.

SuaraSulsel.id - Di tengah fluktuasi harga nikel global dan meningkatnya sorotan terhadap industri tambang, PT Vale Indonesia Tbk menegaskan komitmennya menjaga kinerja sekaligus keberlanjutan.

Head of External Relations Regional and Growth PT Vale, Endra Kusuma, Senin (2/3) menyatakan tekanan pasar justru menjadi momentum memperkuat fondasi industri nasional.

Sepanjang 2025, harga nikel dunia mengalami tekanan signifikan. Meski begitu, PT Vale mencatat kinerja operasional yang relatif stabil.

Hingga November 2025, produksi nikel matte mencapai 66.848 ton atau naik 3 persen secara tahunan, dengan total pendapatan sebesar US$902 juta.

Menurut Endra, ketahanan industri tidak dibangun saat harga tinggi semata. Ia menyebut konsistensi investasi, disiplin operasional, dan komitmen jangka panjang menjadi faktor utama.

Perusahaan juga mendorong pengembangan melalui Indonesia Growth Project (IGP) sebagai bagian dari agenda hilirisasi nasional.

Di Pomalaa, proyek senilai sekitar US$4,5 miliar telah mencapai progres konstruksi lebih dari 65 persen.

Penjualan perdana bijih nikel pada akhir Februari 2026 menandai proyek mulai memasuki fase operasional. Fasilitas ini memiliki kapasitas stockpile hingga 4 juta wet metric ton (Mwmt) dengan target produksi awal 300.000 ton limonit per bulan.

Sementara itu, proyek Morowali senilai US$2 miliar telah mencapai hampir 99 persen progres dan mencatat penjualan awal 2,2 juta ton ore pada awal 2026.

Baca Juga: RKAB 2026 Disetujui, PT Vale Siap Tancap Gas di Tiga Blok Raksasa

Di Sorowako, pengembangan limonit senilai US$2,2 miliar masih berjalan sebagai bagian strategi jangka panjang.

Secara keseluruhan, investasi terintegrasi yang mendekati US$9 miliar tersebut diklaim memperkuat posisi perusahaan sekaligus mendukung peran Indonesia dalam rantai pasok global baterai kendaraan listrik.

Di sisi lingkungan, perusahaan melaporkan lebih dari 50 persen area bukaan tambang telah direklamasi progresif hingga akhir 2025, dengan total 3.863 hektare.

Operasi Sorowako juga ditopang tiga pembangkit listrik tenaga air berkapasitas 365 MW serta lebih dari 100 kolam pengendapan untuk menjaga kualitas air.

Head of Corporate Communication PT Vale, Vanda Kusumaningrum, menegaskan isu lingkungan harus dijawab dengan data dan transparansi.

Hal itu tercermin dari ESG Risk Rating Sustainalytics perusahaan sebesar 23,7 atau kategori medium, yang diklaim terendah di sektor pertambangan nasional.

Load More