- BPS mencatat nilai ekspor Sulawesi Selatan periode Januari-Maret 2026 mengalami penurunan sebesar 13,26 persen akibat melemahnya permintaan komoditas.
- Penurunan ekspor nikel, besi, dan baja secara signifikan berdampak pada rendahnya performa perdagangan di wilayah Sulawesi Selatan tersebut.
- Pemerintah daerah mendorong diversifikasi pasar ekspor untuk mengurangi ketergantungan pada negara tujuan tertentu di tengah fluktuasi global.
Dari sisi pelabuhan, ekspor terbesar Sulawesi Selatan pada Maret 2026 dilakukan melalui Pelabuhan Malili dengan nilai US$73,59 juta atau 64,61 persen dari total ekspor. Disusul Pelabuhan Makassar sebesar US$33,06 juta atau 29,03 persen.
Jika dibandingkan Februari 2026, ekspor melalui Pelabuhan Malili turun signifikan sebesar 28,84 persen, sejalan dengan penurunan ekspor nikel.
Sementara ekspor melalui Pelabuhan Makassar juga mengalami penurunan, meski relatif kecil, yakni 1,42 persen.
Di sisi lain, kinerja impor Sulawesi Selatan justru menunjukkan tren peningkatan. Pada Maret 2026, nilai impor mencapai US$63,96 juta atau naik 2,93 persen dibandingkan Maret 2025 yang sebesar US$62,14 juta.
Komoditas utama impor didominasi oleh gandum, gula dan kembang gula, pakan ternak, mesin dan peralatan mekanik, serta mesin dan peralatan listrik.
Lima kelompok komoditas ini masing-masing menyumbang 34,72 persen, 21,54 persen, 17,95 persen, 9,98 persen, dan 3,13 persen dari total impor.
Negara asal impor terbesar berasal dari Australia, Tiongkok, Thailand, Brasil, dan Argentina dengan kontribusi masing-masing 26,85 persen, 23,14 persen, 22,82 persen, 15,41 persen, dan 7,89 persen.
Sebagian besar barang impor tersebut masuk melalui Pelabuhan Makassar yang mencatat nilai bongkar sebesar US$58,18 juta atau 90,96 persen dari total impor pada Maret 2026.
Secara kumulatif, nilai impor Sulawesi Selatan pada Januari–Maret 2026 mencapai US$256,72 juta, meningkat 43,53 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Harga Nikel Tertekan, PT Vale Klaim Operasional Tetap Stabil
Sekretaris Provinsi Sulawesi Selatan, Jufri Rahman menilai kondisi ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah untuk segera melakukan diversifikasi pasar ekspor.
Menurutnya, selama ini ekspor Sulsel masih didominasi oleh negara-negara tertentu seperti Jepang, Tiongkok, dan Taiwan.
Padahal, peluang pasar di kawasan lain seperti Amerika dan Eropa masih terbuka lebar namun belum dimanfaatkan secara optimal.
"Pasar harus diperluas, tidak bisa hanya bergantung pada negara tertentu. Produk juga perlu dikembangkan agar bisa bersaing di pasar global," ujarnya.
Ia menambahkan dinamika ekonomi global saat ini menjadi tantangan serius yang harus diantisipasi secara tepat.
Kata Jufri, struktur ekonomi Sulawesi Selatan yang masih bertumpu pada sektor industri pengolahan, pertanian, dan pertambangan membuatnya rentan terhadap perubahan permintaan pasar internasional.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
BRI Consumer Expo 2026 Makassar Hadirkan Beragam Promo KPR, KKB, hingga Travel Fair
-
Siap Kerja! Kolaborasi Hino dan SMKN 5 Makassar Perkuat Kompetensi Siswa
-
Warga Makassar, Saatnya Wujudkan Impian Punya Rumah dan Kendaraan Lewat BRI Consumer Expo 2026
-
Ayah Asyik Nonton Piala Dunia, Anak Tewas Terjebak Kebakaran
-
Mantan Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin Lawan Kejati: Kenapa Saya, Bukan Kepala Dinas?