- Ibrahim dan ribuan anak di Sulawesi Selatan putus sekolah pada Mei 2025 akibat tekanan faktor ekonomi keluarga.
- Tercatat 83.935 anak di Sulawesi Selatan tidak bersekolah dengan jumlah tertinggi berada di wilayah Kota Makassar.
- Pemerintah daerah berupaya menekan angka putus sekolah melalui program sekolah lapang, homeschooling, dan kolaborasi dengan UNICEF Indonesia.
"Anak terpaksa bekerja untuk membantu orang tua," ujarnya.
Selain ekonomi, faktor geografis juga menjadi tantangan. Terutama di daerah terpencil dan kepulauan.
Jarak sekolah yang jauh dan minimnya transportasi membuat akses pendidikan tidak merata.
Di sisi lain, faktor individu turut berperan. Sebagian anak memilih berhenti karena tidak betah di sekolah, kurang minat, atau kesulitan mengikuti pelajaran.
Upaya Pemerintah
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan telah menjalin kerja sama dengan UNICEF Indonesia untuk menangani persoalan anak tidak sekolah.
Melalui kolaborasi lintas sektor antara Dinas Pendidikan, Bappelitbangda, dan pemerintah kabupaten/kota, disusun rencana aksi daerah sebagai tindak lanjut strategi nasional penanganan anak tidak sekolah.
"Sulsel merupakan provinsi yang pertama mengembangkan rencana aksi untuk menindaklanjuti strategi nasional penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) melalui koordinasi dan kolaborasi antara Dinas Pendidikan Provinsi, Tim Bappelitbangda dan Dinas Pendidikan Kabupaten/kota," kata Mustaqim.
Program ini bertujuan memastikan setiap anak usia sekolah mendapatkan hak pendidikan, sekaligus memberikan penanganan yang lebih komprehensif.
Baca Juga: Rayakan May Day, Wali Kota Makassar Ajak Ribuan Buruh Fun Walk di Karebosi
Pemerintah juga membentuk tim gugus di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota untuk memperkuat pendataan melalui Dashboard Verval ATS yang dikelola Pusdatin.
"Anak dikembalikan ke jalur pendidikan formal atau diberikan layanan sesuai kondisi mereka," kata Mustaqim.
Sekolah Lapang Hingga Homeschooling
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman menyebut Hari Pendidikan Nasional menjadi momentum evaluasi bagi dunia pendidikan.
Pemerintah kini mencoba pendekatan yang lebih fleksibel melalui program sekolah lapang—model pembelajaran berbasis praktik yang disesuaikan dengan latar belakang anak.
Misalnya, bagi anak dari keluarga nelayan, disiapkan sekolah lapang perikanan. Sementara di sektor lain, seperti pertanian, pendekatan serupa juga diterapkan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Kejahatan Kosmetik di Sulawesi Utara Tertinggi Kedua Nasional
-
10 Pelaku UMKM Difabel di Palu Terima Bantuan Modal Usaha
-
Berapa Harga Jual Maksimal Beras SPHP ? Bulog Awasi Pengoplosan di Kendari
-
Harga Cabai Merah Besar di Jayapura Tembus Rp120 Ribu per Kilogram
-
Gubernur Sulsel Resmikan Jalan Paleteang - Malimpung - Kabere, Akses 800 Ribu Warga Makin Lancar