Muhammad Yunus
Minggu, 26 April 2026 | 16:21 WIB
Asis Daeng Lipung, penjual ikan keliling asal Kabupaten Gowa berangkat ke Tanah Suci melalui Embarkasi Makassar [SuaraSulsel.id/Kemenhaj]
Baca 10 detik
  • Ia melakukannya bukan seminggu atau sebulan, melainkan bertahun-tahun, tanpa banyak bicara.
  • Tunggakan dibayar, kekurangan ditutup, dan keyakinan terus dijaga.
  • Ia mengajarkan satu hal yang sering kita lupakan: bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi

Di Asrama Haji Embarkasi Makassar, Asis berdiri bukan lagi sebagai penjual ikan keliling, tetapi sebagai tamu Allah.

Ia akan terbang menuju Arab Saudi, membawa serta semua lelah yang pernah ia rasakan, semua doa yang pernah ia panjatkan, dan semua harapan yang selama ini ia genggam erat.

Kisah Asis bukan sekadar cerita tentang haji. Ini adalah potret tentang keteguhan. Tentang bagaimana mimpi besar tidak selalu dimulai dari langkah besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan konsisten.

Ia mengajarkan satu hal yang sering kita lupakan: bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Justru di dalam keterbatasan itulah, ketulusan diuji dan harapan menemukan jalannya.

Mungkin kita tidak sedang menabung untuk ke Tanah Suci. Mungkin mimpi kita berbeda.

Tapi satu hal yang pasti—jika seorang penjual ikan dengan sepeda tuanya bisa menembus batas keadaan, maka harapan itu selalu punya ruang untuk tumbuh, di mana pun kita berdiri hari ini.

Load More