- Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada April 2026 atas dugaan penistaan agama.
- Laporan diajukan organisasi Pemuda Katolik dan GAMKI terkait ceramah JK di UGM mengenai akar konflik di Indonesia.
- Sekprov Sulawesi Selatan Jufri Rahman menyatakan pernyataan JK merupakan refleksi sejarah konflik Poso dan Ambon masa lalu.
"Pak JK berada di tengah sebagai penengah. Bahkan kamar beliau itu seperti menjadi ruang pemisah sekaligus jembatan komunikasi," katanya.
Ia juga mengingat momen awal pertemuan yang digagas JK di Makassar sebelum perundingan Malino.
Pertemuan tersebut dihadiri tokoh lintas agama dan berlangsung dalam suasana yang sangat tegang.
Di sayap kanan ada Pendeta Damani, Pendeta Agustina, Pendeta Tobigo.
Lalu, di sayap kiri hotel itu kelompok putih, Agus Dwikarna, Edwi Karnia, dan Habib Al-Jufri dari jaringan Al-Khaerat.
"Diskusinya panjang, keras, dan alot. Bahkan sampai azan salat Jumat baru berhenti," kenangnya.
Pada hari yang sama, JK juga melakukan pendekatan kepada tokoh-tokoh Muslim di Rumah Sakit Islam Faisal untuk membangun komunikasi dari kedua belah pihak.
Menurut Jufri, langkah tersebut menjadi fondasi penting sebelum kedua kelompok akhirnya dipertemukan dalam forum resmi di Malino.
Berdasarkan pengalamannya itu, Jufri menilai pernyataan JK dalam ceramah di UGM merupakan refleksi dari realitas konflik yang pernah terjadi, bukan bentuk penilaian terhadap ajaran agama tertentu.
Baca Juga: Cek Fakta: Benarkah Ceramah Jusuf Kalla Menistakan Ajaran Kristen?
"Yang disampaikan itu kondisi riil di lapangan saat itu. Dalam konflik Poso dan Ambon, kedua pihak sama-sama membawa narasi agama. Itu fakta, bukan doktrin," tegasnya.
Ia juga menilai polemik yang muncul saat ini tidak lepas dari pemotongan pernyataan secara parsial.
"Kalau dipotong-potong, tentu maknanya bisa berbeda. Padahal itu satu kesatuan penjelasan," ujarnya.
Lebih lanjut, Jufri mempertanyakan tudingan terhadap JK mengingat peran besarnya dalam upaya perdamaian di masa lalu.
"Orang yang sudah bersusah payah mendamaikan konflik, masa kemudian dianggap menyampaikan sesuatu yang merusak? Itu tidak masuk akal," katanya.
Ia menambahkan, banyak saksi yang masih hidup dan dapat mengonfirmasi peran JK dalam proses tersebut, termasuk Profesor Hamid Awaluddin dan sejumlah tokoh lain yang terlibat dalam perundingan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
Terkini
-
Saksi Sejarah Konflik Poso-Ambon Buka Suara Soal Polemik Ceramah Jusuf Kalla: Tidak Masuk Akal..
-
Merajalela dan Resahkan Warga, Aksi Premanisme Jukir Liar di Pelabuhan Makassar
-
9 Langkah Antisipasi Warga Gorontalo Utara Menghadapi Kemarau Panjang
-
Gubernur Sulsel: Enrekang Harus Tumbuh Lewat Pertanian dan Infrastruktur
-
12 Fakta Penting KLB Campak di Sulsel: 1.304 Kasus, Empat Daerah Berstatus Darurat