- Potongan video ceramah Jusuf Kalla di UGM Yogyakarta viral setelah dituduh menistakan ajaran agama Kristen terkait konflik.
- Juru bicara menegaskan JK hanya memaparkan realitas sosiologis konflik Poso dan Ambon, bukan membahas ajaran teologi agama.
- Pernyataan JK bertujuan meluruskan pemahaman keliru kelompok bertikai untuk mendorong proses perdamaian melalui Deklarasi Malino tahun 2002.
SuaraSulsel.id - Beberapa akun di media sosial Instagram hampir bersamaan mengunggah potongan video ceramah Jusuf Kalla pada akhir pekan ini.
Dalam unggahan tersebut, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI itu dituduh memfitnah bahkan menistakan ajaran Kekristenan.
Tuduhan tersebut muncul setelah JK dalam ceramahnya menyebut bahwa kedua pihak dalam konflik Poso dan Ambon pada masa lalu sama-sama menggunakan istilah “mati syahid”.
Namun setelah ditelusuri lebih jauh, narasi yang beredar di media sosial tersebut ternyata merupakan hasil pemotongan konteks (context cutting) dari ceramah JK secara utuh.
Potongan Video yang Viral
Dalam video yang beredar, JK dikutip mengatakan:
“Kenapa agama gampang menjadi alasan konflik kayak di Poso, Ambon? Karena kedua-duanya Islam dan Kristen berpendapat mati atau menewaskan orang atau mematikan itu syahid. Saat konflik berlangsung kedua pihak berkeyakinan begitu. Kalau saya bunuh orang Islam, saya syahid. Kalau saya mati pun saya syahid. Akhirnya susah berhenti.”
Sejumlah akun Instagram kemudian menambahkan narasi bahwa JK telah berbohong karena “Kristen tidak mengenal mati syahid untuk membunuh musuh”, dengan merujuk pada ajaran kasih dalam Kekristenan.
Klarifikasi: Menjelaskan Realitas Konflik, Bukan Teologi
Baca Juga: Disebut Dalang Isu Ijazah Jokowi, Jusuf Kalla Murka: Ini Penghinaan!
Juru bicara JK, Husain Abdullah, menegaskan bahwa potongan video tersebut diambil dari ceramah JK di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada Kamis (5/3/2026).
Menurut Husain, dalam ceramah itu JK tidak sedang menjelaskan ajaran teologi agama, melainkan menggambarkan realitas sosiologis yang terjadi saat konflik komunal di Poso dan Ambon pada awal era reformasi.
“Yang disampaikan Pak JK adalah realitas di lapangan saat konflik pecah. Pada masa itu, memang ada kelompok dari kedua pihak yang sama-sama menyerukan perang suci dan mengklaim bahwa membunuh lawan atau mati dalam konflik adalah syahid. Itu fakta sejarah dari konflik bernuansa SARA, bukan pendapat pribadi Pak JK,” kata Husain di Jakarta, Sabtu (10/4).
Ia menegaskan, fakta tersebut dapat dikonfirmasi oleh banyak tokoh yang terlibat dalam proses perdamaian konflik Poso dan Ambon.
Tujuan Ceramah: Meluruskan Pemahaman Keliru
Husain juga menjelaskan bahwa ceramah JK justru bertujuan membongkar dan meluruskan pemahaman keliru yang berkembang di tengah kelompok yang bertikai saat itu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- 6 HP Snapdragon Paling Murah RAM 8 GB untuk Investasi Gadget Jangka Panjang
- HP Xiaomi yang Bagus Tipe Apa? Ini 7 Rekomendasinya di 2026
- Sabun Cuci Muka Apa yang Bagus untuk Atasi Kulit Kusam? Ini 5 Pilihan agar Wajah Cerah
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
BRI Tetapkan Dividen Rp52,1 Triliun, Cerminkan Kinerja dan Fundamental Kuat
-
BRI Ekspansi ke Timor Leste, Pegadaian Siap Layani UMKM
-
Kabid Propam Polda Sulsel Dilaporkan ke Mabes Polri, Diduga 'Bekingi' Sengketa Lahan
-
Kisah Nurdin dan Irwan: Tiga Dekade Menyelamatkan Sejarah dari Ancaman Lupa
-
Ditolak KUA, Ayah Tetap Nikahkan Anak di Bawah Umur dengan Pria 71 Tahun di Luwu