- Potongan video ceramah Jusuf Kalla di UGM Yogyakarta viral setelah dituduh menistakan ajaran agama Kristen terkait konflik.
- Juru bicara menegaskan JK hanya memaparkan realitas sosiologis konflik Poso dan Ambon, bukan membahas ajaran teologi agama.
- Pernyataan JK bertujuan meluruskan pemahaman keliru kelompok bertikai untuk mendorong proses perdamaian melalui Deklarasi Malino tahun 2002.
Menurutnya, JK dalam berbagai kesempatan selalu menegaskan bahwa membunuh orang tak bersalah dalam konflik tidak dapat dibenarkan oleh agama apa pun.
“Pak JK justru menjelaskan kepada kedua pihak bahwa apa yang mereka lakukan bukan perang suci. Membunuh anak-anak, perempuan, dan orang tua jelas melampaui batas kemanusiaan dan bertentangan dengan nilai cinta kasih,” ujarnya.
Upaya pelurusan pemahaman itu pula yang kemudian membuka jalan bagi kedua pihak untuk bersedia duduk bersama dalam proses perdamaian.
Fakta Sejarah Konflik dan Perdamaian
Konflik komunal di Poso dan Ambon terjadi sekitar akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Konflik bernuansa SARA tersebut menelan korban jiwa dalam jumlah besar.
Di Poso, sekitar 2.000 orang dilaporkan tewas. Sementara di Ambon dan wilayah Maluku, jumlah korban mencapai sekitar 5.000 orang, sebagian besar terjadi dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun.
Konflik tersebut akhirnya berhasil diredakan melalui proses mediasi yang dipimpin JK saat menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat.
Proses perdamaian itu diwujudkan melalui Perundingan Malino I pada tahun 2001 untuk konflik Poso dan Perundingan Malino II pada tahun 2002 untuk konflik Ambon.
Pertemuan berlangsung di Malino dan menghasilkan kesepakatan damai yang dikenal sebagai Deklarasi Malino.
Baca Juga: Disebut Dalang Isu Ijazah Jokowi, Jusuf Kalla Murka: Ini Penghinaan!
Dalam perundingan tersebut, tokoh agama Islam dan Kristen, tokoh masyarakat, hingga perwakilan kelompok yang bertikai dilibatkan untuk mencapai kesepakatan penghentian kekerasan.
Kesimpulan
Narasi yang menuduh JK menistakan ajaran Kekristenan tidak berdasar. Video yang beredar merupakan potongan ceramah yang dilepaskan dari konteks aslinya.
Dalam ceramah tersebut, JK sebenarnya sedang menjelaskan realitas konflik sosial yang pernah terjadi, sekaligus menggambarkan bagaimana pemahaman keliru tentang perang suci digunakan oleh kelompok yang bertikai—sebuah pemahaman yang kemudian ia upayakan untuk diluruskan dalam proses perdamaian.
Berita Terkait
Terpopuler
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- 6 HP Snapdragon Paling Murah RAM 8 GB untuk Investasi Gadget Jangka Panjang
- HP Xiaomi yang Bagus Tipe Apa? Ini 7 Rekomendasinya di 2026
- Sabun Cuci Muka Apa yang Bagus untuk Atasi Kulit Kusam? Ini 5 Pilihan agar Wajah Cerah
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Waspada! 7 Daerah di Sulsel Tetapkan Status KLB Campak, Apa yang Harus Dilakukan?
-
Ketua KKLR Sulsel Ajak Wija To Luwu Kawal Pembentukan Provinsi Luwu Raya
-
Cek Fakta: Benarkah Ceramah Jusuf Kalla Menistakan Ajaran Kristen?
-
BRI Tetapkan Dividen Rp52,1 Triliun, Cerminkan Kinerja dan Fundamental Kuat
-
BRI Ekspansi ke Timor Leste, Pegadaian Siap Layani UMKM