- Harga plastik dan bahan baku meningkat sejak akhir Maret 2026 akibat gejolak geopolitik serta mahalnya biaya produksi global.
- Pedagang kecil di Sulawesi Selatan terpaksa mengurangi penggunaan plastik dan menaikkan harga jual demi menutupi biaya operasional.
- Dampak kenaikan harga plastik menekan keuntungan UMKM kuliner serta berpotensi memperlambat aktivitas ekonomi daerah secara keseluruhan.
Di kantin kantor Gubernur Sulsel, Yani, penjual air mineral menghadapi situasi yang tak jauh berbeda.
Harga air mineral botol ukuran 600 mililiter yang biasa ia beli Rp40.600 per dus, kini naik menjadi Rp46.000.
Perubahan itu memaksanya mengatur ulang strategi penjualan.
"Dulu jual Rp10 ribu dapat tiga botol. Sekarang terpaksa Rp5.000 per botol," ujarnya.
Namun, konsekuensinya langsung terasa. Penjualan menurun karena harga yang dianggap lebih mahal oleh pembeli.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Kenaikan harga plastik terjadi di banyak tempat, bahkan di sejumlah wilayah dilaporkan meningkat signifikan dalam waktu singkat.
Di tingkat pedagang, kenaikan itu terasa nyata, dari plastik kemasan hingga gelas plastik sekali pakai.
Nur Aini, pemilik toko plastik di Jalan Perintis Kemerdekaan mengatakan lonjakan harga mulai terjadi sejak akhir Maret 2026.
"Produsen sudah naikkan harga. Katanya bahan bakunya naik, ongkos kirim juga ikut naik," ujarnya.
Ia memberi contoh, harga gelas plastik yang sebelumnya dijual sekitar Rp14.000 per kemasan kini mencapai Rp19.000. Kenaikan itu memaksanya mengambil langkah bertahan.
Baca Juga: Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
"Sekarang kami kurangi stok. Kita pesan dari produsen tidak sebanyak sebelumnya, harga juga kita naikkan," katanya.
Di balik kenaikan harga tersebut, ada rantai panjang yang saling terhubung.
Bahan baku plastik seperti biji plastik berbasis nafta, sebagian besar masih bergantung pada impor.
Ketika pasokan terganggu karena perang, harga di tingkat produsen ikut terdorong naik.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sepanjang Februari 2026, nilai impor plastik Indonesia mencapai US$873,2 juta atau sekitar Rp14,84 triliun.
Ketergantungan ini membuat pasar dalam negeri rentan terhadap gejolak global.
Belakangan, konflik geopolitik di Timur Tengah turut memperparah situasi. Kenaikan harga minyak dunia berdampak langsung pada bahan baku plastik, sekaligus meningkatkan biaya distribusi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- 4 Shio Beruntung Hari ini 21 Agustus 2026 yang Diprediksi Terbebas dari Masalah Keuangan
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Ahli Waris Tagih Ganti Rugi Lahan Stadion Sudiang, Pemprov Sulsel : Sudah Bersertifikat dan Clear
-
Status Waspada! Gunung Karangetang Terus Muntahkan Lava Sejauh 1.000 Meter
-
Kemarau Panjang, 1.400 Hektare Lahan Pertanian di Parigi Moutong Terancam Gagal Panen
-
Enrekang Paling Parah! Ini Fakta-fakta 112 Kasus Karhutla Ludeskan Hutan Sulawesi Selatan
-
Direktur Perusahaan Buronan Korupsi Bank Sulselbar Ditangkap di Jakarta