- Ratusan jemaah Tarekat Naqsabandiyah di Tamalanrea, Makassar, melaksanakan salat Idulfitri lebih dulu pada 19 Maret 2026.
- Perbedaan waktu Idulfitri ini disebabkan penggunaan metode hisab qomariyah yang ditetapkan oleh para mursyid.
- Pelaksanaan ibadah berlangsung tertib damai, menunjukkan tradisi berbeda namun tetap menjaga sikap saling menghormati.
SuaraSulsel.id - Pagi di kawasan Tamalanrea, Kota Makassar, terasa berbeda dari biasanya. Saat sebagian besar umat Muslim masih menunggu penetapan resmi Idulfitri, ratusan jemaah justru sudah lebih dulu menggelar salat ied.
Mereka adalah jemaah Tarekat Naqsabandiyah—kelompok dalam tradisi tasawuf yang memang dikenal memiliki metode sendiri dalam menentukan kalender ibadah.
Sejak fajar, sekitar 100 jemaah mulai berdatangan ke lokasi sederhana di Jalan Perintis Kemerdekaan. Tak ada kemeriahan berlebih.
Yang terdengar hanya lantunan takbir pelan, mengalun khusyuk, seolah menegaskan bahwa hari kemenangan telah tiba—versi mereka.
Tepat pukul 06.30 Wita, salat Idulfitri pun dimulai. Bertindak sebagai imam, Ustaz Amal Ma’ruf, sementara khutbah disampaikan oleh Mursalin Abu Rifki.
Dalam waktu singkat, rangkaian ibadah selesai dengan tertib dan damai. Usai salat, para jemaah saling bersalaman, bermaafan, lalu perlahan meninggalkan lokasi.
Kenapa Bisa Lebih Cepat?
Perbedaan ini bukan tanpa alasan. Jemaah Naqsabandiyah menggunakan metode hisab qomariyah, yakni perhitungan kalender bulan yang sudah ditetapkan jauh hari oleh para mursyid (pembimbing spiritual).
Dalam perhitungan mereka, 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada 18 Februari 2026. Artinya, setelah menjalani puasa 30 hari penuh, Idulfitri mereka tiba lebih awal—yakni pada 19 Maret 2026.
Baca Juga: Ini Lokasi Salat Idulfitri Muhammadiyah di Kota Makassar
Metode ini berbeda dengan pendekatan yang digunakan pemerintah maupun organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, yang umumnya mengombinasikan hisab dan rukyat (pengamatan hilal).
Tradisi Lama, Sikap Tetap Sama
Bagi jemaah Naqsabandiyah, perbedaan ini bukan hal baru. Ini adalah bagian dari keyakinan dan tradisi yang sudah dijalankan turun-temurun dalam perjalanan spiritual mereka.
Meski berbeda hari raya, satu hal yang tetap dijaga adalah sikap saling menghormati. Di tengah masyarakat yang beragam, perbedaan penentuan Idulfitri justru menjadi potret nyata bahwa harmoni bisa tetap terjaga.
Di Makassar pagi itu, Lebaran memang datang lebih cepat bagi sebagian orang. Tapi esensinya tetap sama: kembali ke fitrah, dengan cara yang mereka yakini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Duh! 1 Lowongan Kerja Kini Diperebutkan 16 Orang, Persaingan Makin Brutal
-
Berangkat Dari Kalimantan, Om Basri Siap Hadapi Penyidik Polda Sulsel
-
Dosen Dipecat Karena Tegur Mahasiswa Berpakaian Ketat? Pimpinan Muhammadiyah Investigasi
-
Disemprot Zulkifli Hasan Soal Sampah, Wali Kota Makassar Ungkap Kendala PSEL Makassar
-
Bukan Lewat Kantor Pos atau Bank, Ini Cara Baru Pemerintah Salurkan Bansos dan Subsidi