- Menteri Perdagangan RI mengunjungi Pasar Terong Makassar pada 4 Maret 2026 guna memantau harga menjelang Idul Fitri.
- Pedagang mengeluhkan lonjakan signifikan harga cabai rawit akibat cuaca dan telur ayam ras dipicu program MBG.
- Menteri menyatakan harga mayoritas kebutuhan pokok terkendali dan stok tersedia, pemerintah akan terus memantau fluktuasi harga.
SuaraSulsel.id - Sejumlah komoditas pangan di pasar tradisional Kota Makassar mulai menunjukkan kenaikan harga di pertengahan bulan Ramadan 2026.
Dua komoditas yang paling dikeluhkan pedagang adalah cabai rawit dan telur ayam ras.
Kenaikan harga tersebut terungkap saat Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso melakukan kunjungan ke Pasar Terong, Makassar, Rabu, 4 Maret 2026.
Di sela-sela peninjauan, sejumlah pedagang menyampaikan langsung kondisi harga terkini yang mereka alami dalam sepekan terakhir.
Ismail, salah seorang pedagang cabai mengatakan harga cabai rawit terus merangkak naik. Bahkan, kenaikannya bisa mencapai Rp10 ribu hanya dalam sehari.
"Kemarin kita masih bisa jual Rp50 ribu per kilo, hari ini sudah Rp60 ribu. Naik drastis," ujarnya.
Menurut Ismail, lonjakan harga tersebut bukan semata-mata karena tingginya permintaan, tetapi juga dipengaruhi faktor cuaca. Curah hujan yang tinggi dalam beberapa waktu terakhir berdampak pada pasokan dari petani.
"Dari petaninya memang ada kenaikan karena cuaca katanya. Hujan deras belakangan ini," sebutnya.
Meski demikian, ia mengakui komoditas lain seperti bawang merah, bawang putih, tomat, dan sejumlah sayuran masih relatif stabil.
Baca Juga: Jejak Sejarah Pasar Terong Makassar: Pernah Jadi Penentu Harga Pangan di Indonesia
Bahkan, beberapa di antaranya cenderung lebih murah dibanding beberapa pekan sebelumnya.
Hal serupa juga dirasakan pedagang telur ayam ras.
Zuhaidir, pedagang telur di Pasar Terong mengungkapkan harga telur saat ini mencapai Rp60 ribu per rak. Padahal sebelumnya harga masih berada di kisaran Rp48 ribu.
"Sekarang mahal betul. Itu dari Rp48 ribu sekarang Rp60 ribu per rak, semenjak ada program Makanan Bergizi Gratis (MBG)," katanya.
Menurut Zuhaidir, meningkatnya kebutuhan telur untuk mendukung program MBG turut mendorong kenaikan permintaan di tingkat distributor. Dampaknya, harga dari pemasok juga ikut terkerek naik.
Meski demikian, ia mengaku tetap bersyukur karena dagangannya masih laku.
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Shio yang Paling Berpotensi Jadi Pengusaha Sukses
- Harga Sepatu Skechers Original, Cek 5 Pilihan Terbaik untuk Jalan dan Lari
- Kipas Angin Model AC yang Resmi dan Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasinya
- Status Gunung Api Malam Ini: Merapi, Semeru, Anak Krakatau Siaga, 3 Gunung di Maluku Waspada
- 4 Shio Beruntung 6 September 2026, Hidup akan Lebih Ringan
Pilihan
-
Siswa SMK di Karo Diduga Hilang Ingatan Usai Keracunan MBG, Amnesty Desak Program Disetop
-
Gunung Anak Krakatau Masih Siaga, 6 Kali Erupsi Strombolian Terekam
-
Gunung Anak Krakatau 'Muntah-muntah' Lagi Selasa Pagi Ini, 3 Kali Erupsi
-
Bandara Soetta dan Halim Mulai Dibuka untuk Penerbangan
-
Warga Serbu Pasar Asemka Cari Masker, Pedagang: Stok KF95 Kosong Sejak Kemarin!
Terkini
-
Pegawai Pemkab Gowa Curhat Gaji Telat: Buat Beli Susu Saja Susah!
-
Harta Rp16,1 Miliar, Anggota DPR RI Eva Rataba Tercatat Sebagai Penerima Bansos
-
Antrean Truk Mengular dan Harga Gas Melonjak, Pertamina Harus Beri Penjelasan!
-
Unhas Selidiki Dugaan Kekerasan dan Intimidasi Mahasiswa MIPA
-
Gas 3 Kg Langka dan Mahal, Pertamina Malah Bilang Begini