- Pemerintah menyatakan ketersediaan pangan strategis di Sulsel aman jelang Ramadan dan HBKN, hanya bawang putih yang bergantung pasokan luar.
- Satgas Pangan dibentuk untuk mengawasi harga dan keamanan pangan; pelanggaran HET atau keamanan bisa dikenai sanksi pidana lima tahun.
- Perum Bulog Sulselbar menjamin stok beras, minyak, dan jagung mencukupi hingga Idulfitri bahkan akhir tahun, meniadakan alasan kenaikan harga.
SuaraSulsel.id - Pemerintah memastikan ketersediaan dan harga pangan di Sulawesi Selatan (Sulsel) dalam kondisi aman dan terkendali menjelang bulan suci Ramadan serta Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Seluruh komoditas pangan strategis dipastikan tersedia cukup, sehingga tidak ada alasan bagi pedagang untuk menaikkan harga di atas harga eceran tertinggi (HET).
Jika ditemukan melanggar, pedagang atau distributor terancam sanksi pidana hingga lima tahun penjara.
Direktur Pengawasan Penerapan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Brigjen Pol Hermawan menegaskan secara umum kondisi pangan di Sulsel berada dalam situasi aman. Baik dari sisi ketersediaan maupun keamanan konsumsi.
"Perlu saya informasikan bahwa di Sulsel itu pangan secara keseluruhan aman untuk persiapan puasa dan hari besar keagamaan nasional seperti Imlek. Di sini betul-betul aman," kata Hermawan saat menghadiri rapat koordinasi Satgas Pangan di Makassar, Selasa, 10 Februari 2026.
Ia menjelaskan, Sulsel merupakan salah satu daerah lumbung pangan nasional.
Hampir seluruh komoditas pangan utama diproduksi di wilayah ini. Hanya bawang putih yang masih bergantung pada pasokan dari luar daerah, dengan sekitar 95 persen berasal dari luar Sulsel.
Dengan kondisi produksi yang mencukupi, bahkan surplus untuk beberapa komoditas, Hermawan menegaskan tidak ada alasan bagi pedagang menjual bahan pangan di atas HET. Apalagi, untuk komoditas seperti ayam, daging, dan telur, produksi di Sulsel justru mengalami kelebihan pasokan.
"Kalau produksi surplus berarti harga di produsen murah. Kalau sampai harga di hilir tinggi, berarti itu permainan pedagang. Itu yang akan segera ditindaklanjuti oleh Satgas," tegasnya.
Baca Juga: Cara Nikita Willy Kenalkan Puasa Tanpa Paksa ke Anak
Pemerintah, kata Hermawan, tidak akan mentolerir praktik-praktik yang merugikan masyarakat. Penimbunan pangan dengan tujuan menciptakan kelangkaan dan menaikkan harga menjadi salah satu fokus pengawasan.
Pelaku yang dengan sengaja menimbun barang untuk kepentingan spekulasi akan diproses secara pidana.
"Kalau mereka sengaja menimbun dengan harapan nanti harga naik karena terjadi kelangkaan, itu akan ditindaklanjuti dengan pidana," ujarnya.
Tak hanya soal harga, pemerintah juga menerapkan kebijakan zero tolerance terhadap pelanggaran keamanan pangan.
Hermawan menyebut berbagai bentuk penyalahgunaan bahan pangan, seperti mengemas ulang barang kedaluwarsa, penggunaan formalin, pestisida berlebihan, hingga bahan kimia berbahaya seperti karbit untuk mempercepat pematangan buah, merupakan tindak pidana.
"Misalnya di bulan puasa permintaan tinggi, biasanya ada oknum yang pakai formalin supaya barang awet. Kalau itu terbukti, langsung pidana. Begitu juga kalau pakai pestisida berlebihan atau bahan kimia lain. Kalau hasil laboratorium terbukti, itu pidana," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
Naik Hercules TNI AU, 30 Ton Bantuan Pemprov Sulsel Meluncur ke Titik Gempa NTT
-
Kado Kemerdekaan, Gubernur Sultra Turunkan Pajak Kendaraan Lama hingga 23 Persen
-
Tanggap Gempa NTT, BRI Peduli Hadirkan 3 Posko Logistik dan 1 Dapur Umum
-
Viral Keributan Guru SD dan Wali Murid di Jeneponto, Ibu: Anak Saya Dicekik dan Diseret!
-
Pemprov Sulsel Kecipratan Rp38 Miliar dari Pusat, Untuk Biaya Apa?