- Dua ton telur ikan terbang kering diekspor dari Makassar ke Xiamen, Tiongkok, membuktikan daya saing komoditas unggulan Takalar.
- Karantina Sulawesi Selatan memastikan komoditas tersebut melewati pengawasan ketat dan dinyatakan sehat memenuhi standar negara tujuan.
- Ekspor ini menjadi sinyal positif penguatan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar global terhadap produk Indonesia.
SuaraSulsel.id - Sebanyak dua ton Dried Flying Fish Roe atau telur ikan terbang kering diberangkatkan atau diekspor dari Makassar menuju Xiamen, Tiongkok, melalui jalur udara.
Ekspor ini menjadi bukti nyata bahwa komoditas unggulan asal Takalar, Sulawesi Selatan, memiliki daya saing tinggi dan mampu memenuhi standar pasar internasional.
Kepala Karantina Sulawesi Selatan Sitti Chadidjah di Makassar, menegaskan bahwa seluruh komoditas yang dikirim telah melalui prosedur pengawasan yang sangat ketat.
Hal ini dilakukan untuk memastikan produk lokal tetap menjadi primadona di pasar global.
"Kami telah memastikan 100 karton telur ikan terbang ini melewati serangkaian tindakan karantina. Berdasarkan pemeriksaan karantina yang dilakukan, komoditas ini dinyatakan sehat, dipastikan keamanan mutunya, dan memenuhi syarat negara tujuan," ujarnya, Minggu (18/1).
Kata Chadidjah, komoditas perikanan Sulawesi Selatan kembali memperkuat posisinya di pasar global.
Capaian ekspor ini menjadi sinyal positif bagi penguatan ekonomi daerah, sekaligus membuktikan bahwa potensi sumber daya laut dari perairan Takalar memiliki nilai tambah tinggi di pasar dunia.
Keberhasilan telur ikan terbang asal Sulsel yang mampu menembus pasar Tiongkok diharapkan menjadi katalisator bagi pelaku usaha perikanan lainnya di Sulawesi Selatan.
Untuk meningkatkan skala produksi dan memperluas jangkauan pasar internasional.
Baca Juga: Polemik Lahan IHIP di Luwu Timur, DPRD Sulsel Soroti Ganti Rugi Warga
Dia menyampaikan, Karantina Sulawesi Selatan telah menegaskan keberlanjutan pertumbuhan ekspor tak hanya ditopang oleh nilai transaksi.
Tetapi juga oleh kepercayaan pasar terhadap kualitas dan keamanan produk.
“Ketika negara tujuan percaya pada standar karantina Indonesia, itu berarti kepercayaan terhadap seluruh sistem perdagangan kita meningkat,” ujar Chadidjah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Terjaring OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Langsung Dibawa ke Jakarta
- Profil dan Biodata Anis Syarifah Istri Bos HS Meninggal Karena Kecelakaan Moge
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Surabaya
- Prabowo-Gibran Beri Penghormatan Terakhir di Pemakaman Try Sutrisno: Momen Khidmat di TMP Kalibata
- Rekam Jejak Muhammad Suryo: Pebisnis dari Nol hingga Jadi Bos Rokok HS
Pilihan
-
Skandal Saham BEBS Dibongkar OJK: Rp14,5 Triliun Dibekukan, Kantor Mirae Asset Digeledah!
-
Detik-detik Remaja di Makassar Tewas Tertembak, Perwira Polisi Jadi Tersangka
-
100 Hari Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Belum Kantongi Izin dari Dewan Kota
-
Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
Terkini
-
Rekomendasi Tunik Lebaran Terlengkap di Promo Ramadhan Blibli
-
Warga Makassar Dilarang Nyalakan Petasan di Akhir Ramadan
-
Waspada! 10 Kota Ini KLB Campak Berturut-turut, Kemenkes Ungkap Penyebab Utamanya di Media Sosial
-
Thailand Lirik Sejumlah Potensi Sulsel, Andi Sudirman: Kami Sambut Baik
-
Telur Ikut 'Terbakar'! Dari Rp48 Ribu Jadi Rp60 Ribu, Benarkah Program MBG Pemicu?