- Sebanyak 358 jemaah umrah asal Sulawesi Selatan berada di Arab Saudi dan terpantau aman di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.
- Pemerintah memantau kondisi jemaah dan mengimbau Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah menunda keberangkatan sementara waktu.
- Penerbangan langsung domestik Indonesia-Arab Saudi relatif aman, namun transit di wilayah konflik berpotensi terganggu.
Pemerintah memandang perlu adanya mitigasi risiko keamanan bagi WNI yang melakukan perjalanan ke kawasan terdampak, termasuk calon jemaah umrah yang akan berangkat ke Arab Saudi.
Melalui Direktorat Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah, pemerintah pusat mengimbau agar seluruh Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) atau agen perjalanan mempertimbangkan penundaan keberangkatan calon jemaah untuk sementara waktu hingga kondisi keamanan dinilai lebih kondusif.
Langkah ini diharapkan menjadi bentuk perlindungan optimal bagi jemaah sekaligus menjaga keberlangsungan penyelenggaraan ibadah umrah di masa mendatang.
Situasi di kawasan Timur Tengah sendiri dilaporkan semakin memanas setelah serangan militer Israel dan Amerika Serikat ke sejumlah wilayah di Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Serangan tersebut menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan dan memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik.
Dampaknya mulai terasa hingga ke sektor perjalanan ibadah di Makassar.
Sejumlah usaha travel mengaku menerima pertanyaan dan kekhawatiran dari calon jemaah terkait keselamatan penerbangan dan stabilitas keamanan kawasan.
Salah satu pemilik travel di Makassar, Amaliah Malik mengungkapkan pihaknya mengambil langkah hati-hati dengan membatalkan sementara sejumlah paket keberangkatan.
"Memang ada beberapa yang kami cancel dulu sambil melihat perkembangan. Karena ini menyangkut keselamatan," ujarnya.
Baca Juga: Cerita Warga Makassar di Bawah Bayang-Bayang Rudal Perang AS-Iran
Keputusan tersebut, kata dia, diambil sembari memantau perkembangan situasi geopolitik. Pihaknya juga harus melakukan negosiasi ulang dengan sejumlah mitra di Arab Saudi, termasuk pengelola hotel.
Beberapa kamar yang sebelumnya telah dipesan terpaksa dijual kembali guna meminimalkan potensi kerugian finansial akibat penundaan.
Untuk urusan penerbangan, Amaliah menyebut maskapai seperti Garuda Indonesia dan Lion Air cukup kooperatif.
Maskapai memberikan opsi penjadwalan ulang (reschedule) tanpa batas waktu pasti, menyesuaikan dengan kondisi keamanan yang terus berkembang.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing
Berita Terkait
Terpopuler
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
Pilihan
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
Terkini
-
Polisi Olah TKP Kasus Kekerasan Seksual di Rumah Bupati Konawe Selatan
-
Korban Kekerasan Seksual di Rumah Bupati Konsel Diminta Menikahi Pelaku Saat Lapor Polisi
-
Dua Warga Jadi Tersangka Pembalakan Liar di TWA Mangolo
-
Andi Angga Kirim Kode Zona Kuning ke Ibu Sebelum Ditangkap Tentara Israel
-
Mangkrak atau Lanjut? Ini Kabar Terbaru Kereta Api Trans Sulawesi