- Resti Setyawati, seorang PMI di Kuwait, mengalami kecemasan karena serangan rudal Iran ke pangkalan AS sejak Sabtu, 28 Februari 2026.
- KBRI Kuwait aktif memberikan pembaruan situasi serta imbauan keselamatan bagi WNI mengenai prosedur darurat dan persiapan logistik.
- Pakar memprediksi konflik Timur Tengah mengganggu Selat Hormuz, berpotensi menaikkan harga minyak dan berdampak signifikan pada BBM Indonesia.
SuaraSulsel.id - Di sebuah kamar sederhana di Kota Hawalli, Kuwait, Resti Setyawati mencoba menenangkan diri setiap kali suara sirine memecah udara.
Bunyi panjang yang melengking rupanya bukan sekadar alarm biasa. Itu adalah tanda rudal sedang melintas di langit Kuwait.
Sejak Sabtu, 28 Februari 2026 situasi keamanan di Timur Tengah memang kembali memanas.
Iran dilaporkan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat, salah satunya Pangkalan Udara Al-Salem di Kuwait.
Meski lokasi itu tidak persis berada di dekat tempat tinggalnya, gema ketegangan tetap terasa hingga ke lokasi hunian pekerja migran.
"Agak jauh dari pangkalan udara dan bandara tempat rudal ditembakkan. Tapi beberapa kali terdengar sirine, kadang juga suara ledakan,” ujar Resti, Senin, 2 Maret 2026.
Sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) yang bekerja di bagian tailoring di Fix and Company, Resti memilih tetap menjalani aktivitasnya. Toko tempatnya bekerja masih buka.
Jalanan di sekitar tempat tinggalnya juga belum lumpuh. Namun, rasa cemas tak bisa sepenuhnya diabaikan.
"Kota yang saya tempati sebenarnya cukup aman. Tapi kalau sirine berbunyi beberapa kali dalam sehari, tetap saja khawatir," kata perempuan asal kota Makassar itu.
Baca Juga: Berapa Lama AS Akan Bombardir Iran? Ini Jawaban Trump
Ia menyebut, hari paling mencekam terjadi pada Sabtu malam. Sirine terdengar berulang hingga larut malam, disusul suara dentuman dari kejauhan.
Bagi warga setempat, pola bunyi sirine memiliki arti berbeda. Sirine terputus-putus menandakan peringatan bahaya.
Bunyi bergelombang naik turun berarti evakuasi harus dilakukan. Sementara bunyi stabil menandakan situasi aman kembali.
"Yang paling sering kami dengar itu sirine panjang. Artinya rudal lewat," ujarnya pelan.
Resti disana bukan tanpa panduan. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuwait aktif mengirimkan pembaruan situasi dan imbauan keselamatan.
Warga negara Indonesia diminta mengisi data melalui tautan Peduli WNI, menyiapkan persediaan kebutuhan pribadi, serta mencatat nomor darurat pemerintah Kuwait.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Tinggalkan Keluarga 3 Tahun, Ini Alasan Emosional Darije Kalezic Kembali ke PSM Makassar
-
Bukan Sekadar Publikasi, Riset Rp120 Miliar Australia-Indonesia Ini Wajib Selesaikan Masalah Rakyat
-
5 Fakta Menstruasi Wajib Diketahui Remaja Putri, Jangan Lagi Percaya Mitos!
-
Tim SAR Temukan Satu Jenazah Diduga Korban KM Nurul Salsa
-
Kepala Ditutup Tangan Diborgol, Begini Proses Pemindahan 79 Napi Paling Berbahaya ke Nusakambangan