Muhammad Yunus
Senin, 02 Maret 2026 | 14:53 WIB
Kondisi kota Hawalli, Kuwait di tengah gempuran rudal Iran ke pangkalan minyak Amerika Serikat di negara tersebut [Suara.com/Courtesy : Resti Setyawati]
Baca 10 detik
  • Resti Setyawati, seorang PMI di Kuwait, mengalami kecemasan karena serangan rudal Iran ke pangkalan AS sejak Sabtu, 28 Februari 2026.
  • KBRI Kuwait aktif memberikan pembaruan situasi serta imbauan keselamatan bagi WNI mengenai prosedur darurat dan persiapan logistik.
  • Pakar memprediksi konflik Timur Tengah mengganggu Selat Hormuz, berpotensi menaikkan harga minyak dan berdampak signifikan pada BBM Indonesia.

SuaraSulsel.id - Di sebuah kamar sederhana di Kota Hawalli, Kuwait, Resti Setyawati mencoba menenangkan diri setiap kali suara sirine memecah udara.

Bunyi panjang yang melengking rupanya bukan sekadar alarm biasa. Itu adalah tanda rudal sedang melintas di langit Kuwait.

Sejak Sabtu, 28 Februari 2026 situasi keamanan di Timur Tengah memang kembali memanas.

Iran dilaporkan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat, salah satunya Pangkalan Udara Al-Salem di Kuwait.

Meski lokasi itu tidak persis berada di dekat tempat tinggalnya, gema ketegangan tetap terasa hingga ke lokasi hunian pekerja migran.

"Agak jauh dari pangkalan udara dan bandara tempat rudal ditembakkan. Tapi beberapa kali terdengar sirine, kadang juga suara ledakan,” ujar Resti, Senin, 2 Maret 2026.

Sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) yang bekerja di bagian tailoring di Fix and Company, Resti memilih tetap menjalani aktivitasnya. Toko tempatnya bekerja masih buka.

Jalanan di sekitar tempat tinggalnya juga belum lumpuh. Namun, rasa cemas tak bisa sepenuhnya diabaikan.

"Kota yang saya tempati sebenarnya cukup aman. Tapi kalau sirine berbunyi beberapa kali dalam sehari, tetap saja khawatir," kata perempuan asal kota Makassar itu.

Baca Juga: Berapa Lama AS Akan Bombardir Iran? Ini Jawaban Trump

Ia menyebut, hari paling mencekam terjadi pada Sabtu malam. Sirine terdengar berulang hingga larut malam, disusul suara dentuman dari kejauhan.

Bagi warga setempat, pola bunyi sirine memiliki arti berbeda. Sirine terputus-putus menandakan peringatan bahaya.

Bunyi bergelombang naik turun berarti evakuasi harus dilakukan. Sementara bunyi stabil menandakan situasi aman kembali.

"Yang paling sering kami dengar itu sirine panjang. Artinya rudal lewat," ujarnya pelan.

Resti disana bukan tanpa panduan. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuwait aktif mengirimkan pembaruan situasi dan imbauan keselamatan.

Warga negara Indonesia diminta mengisi data melalui tautan Peduli WNI, menyiapkan persediaan kebutuhan pribadi, serta mencatat nomor darurat pemerintah Kuwait.

Load More