- Resti Setyawati, seorang PMI di Kuwait, mengalami kecemasan karena serangan rudal Iran ke pangkalan AS sejak Sabtu, 28 Februari 2026.
- KBRI Kuwait aktif memberikan pembaruan situasi serta imbauan keselamatan bagi WNI mengenai prosedur darurat dan persiapan logistik.
- Pakar memprediksi konflik Timur Tengah mengganggu Selat Hormuz, berpotensi menaikkan harga minyak dan berdampak signifikan pada BBM Indonesia.
"Kami diminta waspada dan tahu apa yang harus dilakukan kalau kondisi darurat benar-benar terjadi," kata Resti.
Di tengah ketegangan itu, Resti dan sesama pekerja migran Indonesia saling bertukar kabar. Beberapa di antara mereka tinggal lebih dekat ke pelabuhan dan fasilitas strategis lainnya.
"Komunikasi tetap jalan. Kami saling tanya kabar setiap bunyi sirine," ucapnya.
Meski sejauh ini aktivitas belum terhenti, ia berharap konflik tidak berkepanjangan. Bukan hanya soal keselamatan, tetapi juga dampak psikologis yang perlahan terasa.
"Kalau sirine terus berbunyi, itu cukup mengganggu. Mudah-mudahan tidak lama," katanya.
Ketegangan di Kuwait tak berdiri sendiri. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi menimbulkan dampak ekonomi global, termasuk bagi Indonesia.
Pakar energi Universitas Hasanuddin, Muhammad Bahtiar Nappu menilai situasi yang selama ini dikhawatirkan kini terjadi.
Serangan Iran terhadap fasilitas militer Amerika di Kuwait beririsan langsung dengan jalur distribusi energi dunia.
Ia menjelaskan, sekitar 21 hingga 22 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, jalur laut selebar sekitar 33 kilometer yang menghubungkan Teluk Persia dengan perairan internasional.
Baca Juga: Berapa Lama AS Akan Bombardir Iran? Ini Jawaban Trump
Jalur itu kini berada dalam bayang-bayang ketegangan karena Iran mengontrol wilayah tersebut.
"Kalau jalur ini terganggu atau ditutup, harga minyak dunia pasti naik. Kapal tanker terhambat dan terpaksa sandar di Teluk Persia," ujarnya saat dikonfirmasi.
Bukan hanya minyak mentah, sekitar 20 persen perdagangan global gas alam cair (LNG) juga melewati Selat Hormuz. Negara-negara Asia menjadi pihak yang paling terdampak.
China mengangkut sekitar 38 persen minyak mentahnya dari jalur ini, disusul India, Korea Selatan, dan Jepang.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak bukan sekadar angka di pasar komoditas. Dampaknya bisa merembet hingga harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri.
"Kalau sudah BBM naik, semua komoditas akan ikut naik," kata Bahtiar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Polisi Hutan Tewas Tertimpa Pohon Saat Padamkan Karhutla Toraja Utara
-
Mobil Listrik Harga Rp100 Jutaan Ada di GIIAS Makassar
-
Gubernur Sulsel: Sekolah Rakyat Buka Jalan Menuju Generasi Emas 2045
-
Mahasiswa Sebut Rezim Prabowo-Gibran sebagai Bencana Nasional
-
Usai Dilantik Jadi Bupati Gowa, Darmawangsyah Muin Langsung Dihadapkan PR Besar