Tradisi Bubur Syura yang menjadi hidangan dalam setiap 10 Muharram (dalam kalender Islam) hingga saat ini masih terjaga di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan [Suara.com/ANTARA]
"Kita akan terus berupaya menciptakan lingkungan yang kondusif agar tradisi-tradisi baik ini dapat terus hidup dan berkembang," tandasnya.
Menurut dia Festival Bubur Suro bukan hanya sekadar ajang makan bersama, melainkan juga wadah untuk mempererat tali silaturahim, memupuk semangat persatuan, serta melestarikan tradisi leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Sementara Kades Curuggoong, Juhaeni Jajuli, mengapresiasi antusiasme masyarakat meramaikan Festival Bubur Suro dalam rangka memperingati 10 Muharam 1447 Hijriah.
"Festival Bubur Suro ini supaya melestarikan budaya gotong royong di kalangan masyarakat, sehingga kita bisa kompak bersatu untuk selalu berbuat kebaikan ke depannya," ucapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- OJK Respon Isu Dirut MNC Dicekal Usai Keterangan Kontroversial Jusuf Hamka
- 2 Sabun Cuci Muka Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas
- Sepasang Sepatu Nike dari Manhattan dan Cerita di Balik Sosok Jenderal Maruli Simanjuntak
- Ini 3 Pilihan Terbaik HP Snapdragon Termurah dengan Layar AMOLED
- Lagu Runaway Menggema di SUGBK, Jadi Penutup Konser Kanye West di Jakarta
Pilihan
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
-
Kebakaran Hutan di Toraja Utara Hanguskan Kuburan Leluhur
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
Terkini
-
Mantan Bupati Gowa Husniah Talenrang Ditahan Polda Sulsel
-
Disnakertrans Sulsel Gandeng Perusahaan Edukasi K3 Anak SD
-
Bos Tambang Nikel Ditangkap di Makassar Kasus Pajak Rp1,18 Miliar
-
Kebakaran Hutan di Toraja Utara Hanguskan Kuburan Leluhur
-
Konstruksi Stadion Untia Makassar Berkapasitas 15.000 Penonton Dimulai Awal 2027