SuaraSulsel.id - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menarik alat kesehatan bermerkuri di Sulawesi Selatan. Sebanyak 6,29 ton alkes seperti termometer, tensimeter, dan dental amalgam dimuat ke dalam truk kontainer yang akan dikirim ke Jepang untuk dimusnahkan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pemprov Sulsel Hasbi Nur mengatakan alat kesehatan bermerkuri ini dikirim ke Jepang karena ketiadaan depot penyimpanan di Indonesia.
Alat tersebut kondisinya telah dalam kemasan sekunder sesuai per jenisnya dan tidak dalam kondisi pecah.
"Karena belum ada pengelolaannya di Indonesia. Di Sulsel sendiri ada 2,4 ton alat medis termasuk termometer yang sudah ditarik," kata Hasbi pada pelepasan Alkes bermerkuri di kantor Gubernur Sulsel, Rabu, 18 September 2024.
Penarikan alkes bermerkuri di wilayah Sulawesi ini bersumber dari 463 Fasyankes di 29 kabupaten dan 3 kotamadya yang berada di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah dengan jumlah total sebanyak 7.123 unit seberat 6,29 ton yang sudah dimuat ke dalam 4 truk kontainer.
KLHK sebelumnya telah menerbitkan PermenLHK Nomor 27 tahun 2020 tentang Pengelolaan Limbah Alat Kesehatan Mengandung Merkuri.
Peraturan Menteri ini menjadi pedoman pelaksanaan pengelolaan alat kesehatan bermerkuri yang meliputi pengumpulan, penyimpanan sementara, pengangkutan, penyimpanan pada storage depo, serta pengolahan lanjutan.
KLHK juga telah menerbitkan Permen LHK Nomor 27 tahun 2020 tentang Pengelolaan Limbah Alat Kesehatan Mengandung Merkuri yang meliputi jenis alkes termometer bermerkuri, tensimeter bermerkuri dan dental amalgam dengan batas waktu paling lambat sampai dengan tanggal 31 Desember 2025.
Disamping itu, Kemenkes juga telah menerbitkan Permenkes Nomor 41 Tahun 2019 tentang Penghapusan dan Penarikan Alat Kesehatan (Alkes) Bermerkuri di Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) dengan target 100 persen Fasyankes tidak lagi menggunakan Merkuri sejak tahun 2020.
Baca Juga: Fantastis! Ini Daftar Crazy Rich di Pilkada Sulsel 2024
"Itu jika limbahnya terkontaminasi dengan air sungai misalnya, lalu ada yang konsumsi airnya, jadinya macam-macam. Ada yang melahirkan tidak sempurna, tangannya belang, macam-macam dampaknya," sebutnya.
Merkuri adalah jenis logam berat yang berbahaya dan sebaiknya dijauhkan dari tubuh. Sifat merkuri tergolong toksik, tahan urai, dan dapat terakumulasi di dalam tubuh. Merkuri bentuknya cair, berwarna perak, dan hanya menguap pada suhu tinggi minimal 375 derajat Celcius.
Merkuri bentuknya cair, berwarna perak, dan hanya menguap pada suhu tinggi minimal 375 derajat Celcius. Merkuri juga dikenal dengan nama lain air raksa (Hg), yang bisa dicampurkan dengan logam lainnya dan mampu mengalirkan arus listrik sebagai konduktor.
Dirjen Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya KLHK, Rosa Vivien Ratnawati menambahkan merkuri sangat berbahaya meskipun kandungannya sedikit. Seperti pada amalgam.
Amalgam merupakan bahan untuk menambal gigi yang merupakan campuran dari 50 persen merkuri, 22 persen perak, 14 persen timah, 8 persen tembaga, dan 6 persen logam lainnya.
"Sangat bahaya. Oleh karena itu kami himbau kumpulkan jika masih ada ke DLHK. Tapi mulai hari ini di Sulsel tidak ada lagi tensi dan termometer yang mengandung merkuri," ucap Rosa.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
- Terpopuler: 5 HP Samsung RAM 8 GB Termurah, Sinyal Xiaomi 17T Series Masuk Indonesia
- Promo Indomaret 26 Februari Sampai 1 Maret 2026, Diskon Besar Minyak Goreng dan Pampers
- PERANG DIMULAI: Amerika dan Israel Serang Ibu Kota Iran
Pilihan
-
Info Orang Dalam, Iran Hampir Pasti Tak Ikut Piala Dunia 2026
-
Jumlah Tentara AS Tewas di Perang Iran Bertambah
-
Percakapan Terakhir Ali Khamenei Sebelum Dibom Israel-AS Terungkap: Menolak Masuk Bunker
-
Ahok Adu Mulut dengan Pengacara Kasus LNG, Hakim Sampai Harus Turun Tangan
-
Kabar Duka, Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno Meninggal Dunia di RSPAD Pagi Ini
Terkini
-
Diduga Terima Setoran dari Bandar, Ini Jadwal Sidang Etik Eks Kasat Narkoba Toraja Utara
-
Sidang Etik Dimulai! Bongkar Peran 6 Polisi dalam Kematian Bripda Dirja Pratama
-
Cerita Warga Makassar di Bawah Bayang-Bayang Rudal Perang AS-Iran
-
Ramadan di Makassar Diwarnai 'Perang' Senjata Mainan, Ini Perintah Wali Kota
-
Berapa Lama AS Akan Bombardir Iran? Ini Jawaban Trump