Seperti mengentaskan mata-mata atau kaki tangan NICA, merampas senjata musuh, mengganggu lalu lintas dengan menghadang mobil tentara serta polisi Belanda. Menghalangi kendaraan yang mengangkut barang-barang kepentingan Belanda, hingga memusnahkan bangunan vital milik Belanda.
Kecakapan ini jugalah yang membuatnya memimpin Barisan Angkatan Muda Pelajar yang terus memberi perlawanan kepada Belanda.
Pada tanggal 17 Oktober 1945, di bawah koordinasinya, semua kekuatan para pemuda pejuang yang ada di Ujung Pandang dipusatkan untuk mengadakan serangan umum pada musuh.
Penyerbuan dilakukan ke tangsi Belanda di Mariso, Stasiun Pemancar Radio Makassar, dan lokasi lain milik Belanda. Barisan ini pun merebut berbagai tempat strategis, gedung-gedung penting, dan bangunan vital yang sudah diduduki tentara Belanda.
Salah satu aksi heroik Monginsidi terjadi sepanjang pekan ketiga Januari 1947. Pasukannya terlibat kontak senjata dengan pihak Belanda dan berhasil memukul mundur lawan.
Beberapa hari kemudian, terjadi saling tembak-menembak. Monginsidi nyaris tertangkap, tapi lolos.
Wolter Monginsidi juga pernah menggabungkan diri dengan pasukan Ranggong Daeng Romo. Markas pasukan ini ada di Polongbangkeng, Takalar.
Monginsidi bertugas sebagai penyidik karena kemampuannya dalam berbahasa asing dan wajahnya yang dinilai mirip orang Indo-Belanda. Pernah suatu hari, ia memasuki kota Ujung Pandang seorang diri dan menyamar sebagai tentara Belanda.
Dia berani menghentikan mobil jeep tentara Belanda untuk ikut menumpang. Namun, di tengah jalan, Monginsidi menodongkan pistol ke pengemudi hingga membuatnya tak berdaya. Senjata dan mobil milik Belanda itu lantas dirampas.
Sejak itu, ia mulai dikenali. Belanda pun menggelar razia besar-besaran untuk menangkapnya. Monginsidi terjaring dan tertangkap akhir Februari 1947.
Baca Juga: Pahlawan Nasional Opu Daeng Risadju Akan Diabadikan Sebagai Nama Jalan di Kota Makassar
Delapan bulan di penjara, kawan-kawan seperjuangan Monginsidi berhasil menyelundupkan dua granat yang dimasukan ke dalam roti. Granat itu kemudian diledakkan di kompleks penjara membuat Monginsidi dan rekannya berhasil melarikan diri.
Pengkhianatan
Namun, setahun berselang, Monginsidi kembali terkepung di sebuah gang pemukiman warga. Ia tidak mengira jika posisinya diketahui oleh Belanda.
Rupanya, ia dikhianati oleh tiga temannya sendiri. Abdullah Hadade, HM Yoseph, dan Lewang Daeng Matari.
Jika ingin melawan, sebenarnya bisa saja. Monginsidi masih punya sebuah granat yang bisa ia lemparkan. Tapi, risikonya terlalu besar. Gang tempatnya terkepung itu adalah area pemukiman warga.
Ia pun akhirnya menyerah demi keselamatan rakyat. Tangan dan kaki Monginsidi dibelenggu dengan rantai, kemudian dikaitkan ke dinding tembok tahanan di Kis Kampement Makassar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
Pilihan
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
Terkini
-
Polisi Olah TKP Kasus Kekerasan Seksual di Rumah Bupati Konawe Selatan
-
Korban Kekerasan Seksual di Rumah Bupati Konsel Diminta Menikahi Pelaku Saat Lapor Polisi
-
Dua Warga Jadi Tersangka Pembalakan Liar di TWA Mangolo
-
Andi Angga Kirim Kode Zona Kuning ke Ibu Sebelum Ditangkap Tentara Israel
-
Mangkrak atau Lanjut? Ini Kabar Terbaru Kereta Api Trans Sulawesi