SuaraSulsel.id - Kritik terhadap pemerintah lewat mural heboh belakangan ini. Setelah mural bergambar wajah Presiden Jokowi dengan tulisan 404 Not Found viral. Cara itu pun dianggap efektif sebagai kritik masyarakat lewat seni.
Di Kota Makassar juga ada beberapa tulisan serupa. Mengkritik pemerintah. Seperti di Jalan Urip Sumoharjo.
Ada tulisan "Negara Membunuhmu" dan "KPK TAI" di halte bus yang tidak digunakan. Ada juga tulisan "DPR Anjing" di tembok pagar kantor Kejaksaan Tinggi Sulselbar.
Tidak diketahui siapa pembuat dan apa maksudnya membuat tulisan seperti itu.
Sosiolog Universitas Hasanuddin Muhammad Ramli AT mengatakan, cara ini adalah bentuk ekspresi seni. Mural memang sejak awal adalah street art yang menjadikan bidang bangunan, biasanya dinding di ruang publik sebagai wadah ekspresi.
"Terutama kritik terhadap berbagai sikap dan kebijakan pemerintah. Itu lah yang kita lihat bermunculan di beberapa tempat akhir-akhir ini," ujar Ramli, Senin, 23 Agustus 2021.
Menurut Ramli, kritik sosial itu bisa dilihat sebagai cara penyampaian pandangan mengenai suatu hal. Tetapi bisa juga berbentuk ekspresi kekecewaan atau ketidaksetujuan.
Pilihan itu tentu didasarkan pertimbangan agar pesan yang disampaikan bisa efektif ke target yaitu masyarakat luas.
Namun menurutnya, baliho atau pamflet para pejabat publik jelang pilkada atau Pemilu lebih mengganggu. Ketimbang mural.
Baca Juga: Banyak Mural Kritis Dihapus, Muncul Mural: Urus Saja Moralmu, Jangan Muralku
"Jika ini dilihat sebagai mengganggu atau merusak fasilitas umum, sesungguhnya memang sangat tergantung bagaimana penggunaan dan penataannya. Baliho atau juga banyak yang mengganggu dan ditempatkan bukan pada lokasi yang semestinya," bebernya.
Ramli juga menilai maraknya kritikan lewat seni karena ada ketakutan menuangkannya lewat media sosial.
Sedikit-sedikit bisa dijerat dengan UU ITE.
"Itu tidak menutup kemungkinan masyarakat rumit menuangkannya di media sosial karena UU ITE," ujarnya.
Ia menganggap munculnya mural di berbagai tempat bisa menjadi bahan evaluasi atas berbagai saluran menyuarakan pendapat yang ada selama ini.
Karena memilih mural sebagai media ekspresi dan kritik tentu tidak semudah menulis di gawai. Sekalipun lebih banyak memanfaatkan ruang publik secara "gratisan".
"Mural tetaplah membutuhkan tenaga dan finansial lebih, selain bakat seni. Sehingga pilihan mural sebagai saluran kritik sosial kecil kemungkinan hanya didorong oleh sesuatu yang dipandang remeh atau tak penting oleh pembuatnya, melainkan sesuatu yang dipandang serius. Karenanya, kritik sosial melalui mural juga tak boleh disepelekan," jelasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan