"Ekonomi Sulampua ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi di seluruh indonesia. Di antara pertumbuhan ekonomi tersebut Sulsel adalah pendorong mesin utamanya. 35 persen pangsa PDRB Sulampua ada di Sulsel," ungkap Adang sapaan Endang Kurnia Saputra.
Sementara wilayah lainnya, seperti Jawa dan Bali diperkirakan masih melambat. "Bali kemungkinan di tahun ini masih provinsi yang belum tumbuh ekonominya karena pariwisata terpukul," bebernya.
Ia menambahkan, BI Sulsel ke depan akan fokus membantu dua kabupaten yakni Jeneponto dan Pangkep. Adang bilang, Jeneponto punya potensi yang harus didukung. Sementara Pangkep punya potensi perikanan yang besar sekali.
"Jadi di Sulsel itu adalah ekonomi dengan struktur yang lengkap. Pertanian kuat. Terkuat di kawasan Indonesia. Kemudian ada pertambangan, juga di sisi di sumber daya alam perikanan sangat besar sekali," terangnya.
Potensi perikanan Sulsel menyumbang sekitar 43 persen dari total produksi perikanan Sulampua dan 17 persen dari total produksi perikanan nasional.
Adang mengatakan, untuk satu wilayah Sulsel saja jauh lebih besar potensi sumber dayanya daripada gabungan Banten dan Jabar. Juga tidak kalah besar dari gabungan Jateng dan Jatim.
"Ekonomi di Sulsel sangat kaya. Ini tinggal dikelola dengan sebaik-baiknya," imbuhnya.
Dengan potensi ini pun lanjut Adang, jika Sulsel mengalami resesi maka itu akan berdampak ke provinsi-provinsi lain. Ketergantungan provinsi lain sangat tinggi.
Produk primer kebutuhan masyarakat Papua misalnya, 78 persen di impor dari Sulsel. Lalu beras, Sulsel yang memproduksi 4 juta ton per tahun dikonsumsi hanya 900 ribu ton - 1 juta ton. Kemudian 1 juta tonnya di impor ke Jawa dan 2 juta tonnya ke Sulampua.
"Berita baiknya BI melihat Sulsel sebagai satu dari dua cash center di Indonesia. Artinya peredaran uang di Makassar menjadi yang terbesar di Indonesia. Jadi kami tumpukkan uang itu di sini (Sulsel)," tutup Adang.
Baca Juga: Inspektorat Periksa Sekprov Sulsel Abdul Hayat Gani Terkait Dana Bansos
Hilirisasi Produksi
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unhas, Prof Marsuki DEA juga mengaku, Pemda harus memberi peran masing-masing di tahun ini.
Di mana Sulsel masuk dalam delapan wilayah unggulan. Diantaranya Toraja dengan pariwisatanya, Soppeng dengan tebunya, dan Gowa dengan jagungnya.
Kemudian ada Bantaeng dengan talas, Bulukumba dengan perikanan, Bone dan Sinjai yang kuat peternakannya.
"Sehingga akhirnya masing-masing daerah mempunyai peran dan tanggung jawab membangun sektor riil. Membangun sektor ekonomi tidak hanya secara strukturalnya tetapi sekunder dan tersiernya bisa jalan bersama," jelasnya.
Tak sampai di situ saja, diharapkan juga ada hilirisasi daripada proses produksi, proses pemasaran, dan pembangunan jaringan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Terjaring OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Langsung Dibawa ke Jakarta
- Profil dan Biodata Anis Syarifah Istri Bos HS Meninggal Karena Kecelakaan Moge
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Surabaya
- Prabowo-Gibran Beri Penghormatan Terakhir di Pemakaman Try Sutrisno: Momen Khidmat di TMP Kalibata
- Rekam Jejak Muhammad Suryo: Pebisnis dari Nol hingga Jadi Bos Rokok HS
Pilihan
-
Skandal Saham BEBS Dibongkar OJK: Rp14,5 Triliun Dibekukan, Kantor Mirae Asset Digeledah!
-
Detik-detik Remaja di Makassar Tewas Tertembak, Perwira Polisi Jadi Tersangka
-
100 Hari Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Belum Kantongi Izin dari Dewan Kota
-
Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
Terkini
-
Rekomendasi Tunik Lebaran Terlengkap di Promo Ramadhan Blibli
-
Warga Makassar Dilarang Nyalakan Petasan di Akhir Ramadan
-
Waspada! 10 Kota Ini KLB Campak Berturut-turut, Kemenkes Ungkap Penyebab Utamanya di Media Sosial
-
Thailand Lirik Sejumlah Potensi Sulsel, Andi Sudirman: Kami Sambut Baik
-
Telur Ikut 'Terbakar'! Dari Rp48 Ribu Jadi Rp60 Ribu, Benarkah Program MBG Pemicu?