- Kemarau panjang dan El Nino kuat memicu krisis air serta pemadaman listrik di Sulawesi Selatan.
- BMKG menyatakan operasi modifikasi cuaca belum dapat diterapkan di wilayah barat karena kelembapan udara belum memenuhi syarat.
- Pemerintah menyalurkan air melalui pipanisasi, sementara wilayah timur masih berpotensi dilakukan hujan buatan untuk waduk energi.
SuaraSulsel.id - Kemarau panjang mulai menekan kehidupan masyarakat di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan.
Selain krisis air bersih yang membuat warga kesulitan mendapatkan pasokan air, pemadaman listrik bergilir juga terjadi di sejumlah daerah.
Di Kota Makassar, Kabupaten Gowa hingga Maros, pemadaman listrik telah berlangsung lebih dari sepekan. Dalam sekali pemadaman, listrik dapat padam hingga empat jam.
Kondisi tersebut menambah beban masyarakat yang sebelumnya sudah menghadapi dampak kekeringan.
Baca Juga:Listrik Sulsel Mulai Dipadamkan, Pemprov Sulsel Terima Laporan Penyebabnya
Di sejumlah wilayah, warga harus mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara pasokan listrik yang terputus turut mengganggu aktivitas rumah tangga maupun usaha.
Salah satu faktor yang turut memengaruhi pasokan listrik adalah berkurangnya ketersediaan air pada pembangkit yang mengandalkan sumber daya air.
Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan meminta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) atau hujan buatan sebagai salah satu langkah mengantisipasi kekeringan.
Namun, upaya tersebut tidak bisa dilakukan begitu saja.
BMKG menyebut tidak semua awan dapat disemai. Operasi modifikasi cuaca hanya bisa dilakukan ketika terdapat potensi awan yang memenuhi persyaratan tertentu untuk menghasilkan hujan.
Baca Juga:Pemadaman Listrik Bergilir 2 Jam Sehari di Sulsel
Kepala BMKG Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil mengatakan pelaksanaan OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer dan pertumbuhan awan di wilayah sasaran.
Sebelum melakukan penyemaian, BMKG terlebih dahulu harus memastikan kondisi udara dan kandungan uap air memungkinkan terbentuknya awan yang dapat disemai.
"Apakah udara yang ada di situ sehat untuk membentuk awan, itu dulu," kata Nasrol saat dikonfirmasi, Selasa, 1 September 2026.
Ia menjelaskan kondisi atmosfer di sejumlah wilayah Sulsel saat ini belum mendukung pelaksanaan OMC. Wilayah tersebut antara lain Makassar hingga Enrekang, Pinrang, serta kawasan Bulukumba.
Potensi uap air dan tingkat kelembapan di wilayah tersebut belum memenuhi syarat untuk dilakukan penyemaian awan.
"Di daerah Sulawesi Selatan seperti Makassar kemudian sampai dengan Enrekang, Pinrang, serta dari Bulukumba itu potensi uap air untuk kelembapan udaranya tidak memenuhi syarat untuk OMC. Awan tidak bisa disemai," jelasnya.