- Kepala Perwakilan BI Sulsel Rizki Ernadi Wimanda menyampaikan ancaman El Nino memicu gagal panen dan potensi kenaikan harga beras di Bali pada Kamis, 27 Agustus 2026.
- Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan Sulawesi Selatan yang menjadi penopang utama ekonomi daerah mengalami kontraksi sekitar 0,3 persen pada triwulan II 2026.
- Ekonomi Sulawesi Selatan pada triwulan II 2026 tumbuh 5,59 persen secara tahunan, melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan I 2026 yang mencapai 6,88 persen.
SuaraSulsel.id - Ancaman El Nino mulai menjadi perhatian serius bagi perekonomian Sulawesi Selatan.
Fenomena cuaca ekstrem yang ditandai dengan kondisi lebih kering tersebut berpotensi menekan produksi beras dan pada akhirnya mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.
Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Selatan memperingatkan dampak El Nino terhadap sektor pertanian tidak boleh dianggap sepele. Sejumlah daerah bahkan telah dipastikan mengalami gagal panen akibat kekeringan yang berlangsung panjang.
Jika produksi beras terganggu sementara permintaan masyarakat tetap tinggi, tekanan terhadap harga pangan pun berpotensi meningkat. Kondisi ini menjadi salah satu pekerjaan rumah pemerintah daerah untuk menjaga inflasi tetap terkendali.
Baca Juga:Program Pembangunan Jalan Andalan Sulsel Dilanjutkan
"El Nino ini membahayakan pertanian kita. Harga beras kemungkinan akan naik kalau tidak ada intervensi dari pemerintah," ujar Kepala Perwakilan BI Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda dalam Pelatihan Wartawan Sulawesi Selatan di Bali, Kamis, 27 Agustus 2026.
Rizki menjelaskan pengendalian harga pangan harus menjadi perhatian pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota. Sebab pangan memiliki pengaruh besar terhadap inflasi sekaligus daya beli masyarakat.
BI Sulsel masih memperkirakan inflasi berada dalam kisaran 2,5 persen, baik pada 2026 maupun 2027. Namun, proyeksi tersebut tetap menghadapi sejumlah risiko, terutama dari komoditas pangan yang harganya mudah berfluktuasi.
"Yang jadi PR kita, pemprov, pemkot/pemkab, dan BI adalah bagaimana memperhatikan harga pangan. Bagaimana mengendalikan harga cabai, ikan, tomat, beras, minyak," katanya.
El Nino dan Risiko Rantai Pasok
Baca Juga:Syarat Dapat Listrik Gratis dari Pemprov Sulsel 2026: Cek Apakah Rumah Anda Termasuk
Ancaman kenaikan harga beras tidak hanya berhenti pada persoalan produksi di tingkat petani. Kekeringan yang berkepanjangan dapat mengganggu rantai pasok pangan secara lebih luas.
Ketika hasil panen menurun, pasokan beras di pasar berpotensi menyusut. Jika tidak diimbangi dengan intervensi pemerintah melalui penguatan stok dan distribusi, harga beras dapat terdorong naik.
Bagi Sulsel, risiko tersebut menjadi semakin penting karena sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor tersebut merupakan penyumbang terbesar terhadap struktur ekonomi Sulsel, disusul perdagangan, industri pengolahan, dan konstruksi.
Namun, pada triwulan II 2026, sektor pertanian justru mengalami kontraksi sekitar 0,3 persen.
Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi Sulsel membutuhkan perhatian lebih terutama ketika tekanan iklim mulai mengganggu produktivitas.