- KM Nurul Salsa tenggelam di Selayar pada Juli 2026 setelah mesin mati dan dihantam ombak tinggi.
- Kakek bernama Umar mengorbankan pelampungnya agar cucunya, Naurah, dapat bertahan hidup di tengah laut.
- Basarnas memperpanjang operasi pencarian tiga hari karena 16 dari 78 penumpang masih dinyatakan hilang.
Situasi berubah mencekam ketika kapal mulai miring dan perlahan tenggelam.
Para penumpang bergegas mencari pelampung yang tersedia. Di tengah kekacauan itu, Umar tetap berada di sisi Naurah.
"Naurah ini sama dengan kakek dan neneknya. Saat kapal tenggelam, neneknya berada di kelompok kapten kapal. Kalau kakeknya sama Naurah," tutur Munawir.
Menurut kesaksian Munawir, Umar kemudian mengambil keputusan yang tak akan pernah dilupakan para penyintas.
Baca Juga:Tim SAR Temukan Satu Jenazah Diduga Korban KM Nurul Salsa
Pelampung yang semestinya bisa menyelamatkan dirinya justru dipasangkan ke tubuh sang cucu.
Sesaat kemudian kapal benar-benar tenggelam.
Naurah masih terlihat mengapung di permukaan laut. Sementara Umar perlahan hilang bersama badan kapal yang ditelan ombak.
"Kakek Naurah pas kapal tenggelam dia juga ikut tenggelam," kenang Munawir.
Terseret arus di tengah lautan, Naurah terus menangis. Suaranya memecah gelap, memanggil-manggil kakeknya yang tak lagi terlihat.
Baca Juga:Basarnas Kerahkan RB 220 dari Mataram Perkuat Operasi SAR KM Nurul Salsa
"Naurah cari nenek laki-lakinya, cari kakeknya. Dia jauh dari gabus," ujar Munawir.
Mendengar tangisan itu, Munawir berenang mendekat.
Dengan tenaga yang tersisa setelah berjuang melawan ombak, ia meraih tubuh Naurah dan mengangkatnya ke atas sebuah gabus besar yang menjadi tempat bertahan hidup sejumlah korban.
"Saya lihat Naurah langsung saya ambil ini anak. Kasih naik ke atas gabus," katanya.
Harapan sempat tumbuh.
Namun laut kembali menunjukkan amarahnya.