- Rasia Jabara Banto, seorang ART berusia 66 tahun asal Mimika, tiba di Asrama Haji Makassar, Senin, 11 Mei 2026.
- Ia berhasil mewujudkan impian menunaikan ibadah haji setelah menabung gajinya selama belasan tahun dengan hidup sangat sederhana.
- Rasia berangkat seorang diri bersama total 933 jemaah haji asal Papua melalui Embarkasi Makassar pada 12 Mei 2026.
Setiap bulan ia menerima upah sekitar Rp1,5 juta. Namun, uang itu nyaris tak pernah ia gunakan untuk dirinya sendiri.
"Tiap jadwal gajian saya kasih uang ke bosku. Saya cicil sama bosku," katanya.
Bahkan, selama bertahun-tahun bekerja, Rasia memilih tidak menikmati hasil jerih payahnya sendiri. Seluruh gajinya langsung diberikan kepada sang majikan sebagai cicilan biaya haji.
![Rasia Jabara Banto, calon Haji asal Papua di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Senin, 11 Mei 2026 bersiap menuju Tanah Suci [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/11/16816-art-naik-haji.jpg)
"Saya tidak sentuh gajiku. Saya langsung kasih semua ke bosku," ujarnya.
Baca Juga:Buruh Tani dari Kabupaten Maros Jadi Ikon Ibadah Haji Dunia
Beruntung, selama bekerja ia tinggal di rumah majikannya. Kebutuhan makan dan biaya sehari-hari ditanggung keluarga tempatnya bekerja.
Hal itulah yang membuat Rasia bisa bertahan menjalani hidup dengan sangat sederhana demi mempertahankan impiannya.
"Karena makan dan biaya lainnya saya numpang di rumah bos," tuturnya.
Rasia mengaku bekerja sekitar delapan tahun dengan keluarga tersebut. Selama itu pula, hidupnya dihabiskan untuk mengurus rumah dan memasak bagi anak-anak majikannya.
Meski pekerjaannya sederhana, Rasia tak pernah malu menjalaninya. Baginya, pekerjaan itu justru menjadi jalan yang membawanya lebih dekat dengan impian berhaji.
Baca Juga:Cara Mudah Daftar Haji Lewat Pegadaian, Bisa Gunakan Jaminan Emas
"Saya pembantu rumah tangga, masak untuk anak majikan," katanya.
Di sela pekerjaannya, Rasia sesekali pulang kampung ke Kabupaten Pinrang.
Ia mengingat pernah sekitar enam kali kembali menemui keluarga di kampung halamannya sebelum akhirnya kini benar-benar berangkat ke Tanah Suci.
Tak ada kemewahan yang menyertai keberangkatannya.
Rasia bahkan berangkat seorang diri tanpa pendamping keluarga. Namun hal itu tidak mengurangi kebahagiaannya sedikit pun.
Ia masih mengingat bagaimana sang majikan dulu ikut mengantarnya saat proses pendaftaran haji pertama kali dilakukan.