- Rasia Jabara Banto, seorang ART berusia 66 tahun asal Mimika, tiba di Asrama Haji Makassar, Senin, 11 Mei 2026.
- Ia berhasil mewujudkan impian menunaikan ibadah haji setelah menabung gajinya selama belasan tahun dengan hidup sangat sederhana.
- Rasia berangkat seorang diri bersama total 933 jemaah haji asal Papua melalui Embarkasi Makassar pada 12 Mei 2026.
SuaraSulsel.id - Langkah Rasia Jabara Banto terlihat tergopoh-gopoh memasuki ruang Mina di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Senin, 11 Mei 2026.
Di usianya yang kini menginjak 66 tahun, perempuan asal Mimika, Papua Tengah itu tampak sibuk memperhatikan sekeliling sambil sesekali menggenggam tas kecil yang dibawanya.
Namun, di balik wajah lelahnya, senyum Rasia tak pernah lepas. Matanya berbinar ketika namanya dipanggil petugas.
Sesekali ia tertawa kecil saat berbincang dengan calon jemaah haji lain yang duduk berdekatan dengannya.
Baca Juga:Buruh Tani dari Kabupaten Maros Jadi Ikon Ibadah Haji Dunia
Rasia menjadi satu dari rombongan calon jemaah haji Kloter 31 asal Mimika, Papua Tengah.
Tahun ini, penantian panjangnya untuk menginjakkan kaki ke Tanah Suci akhirnya terwujud setelah belasan tahun menabung dari hasil bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART).
Perempuan itu mengaku masih sulit percaya dirinya benar-benar akan berangkat ke Mekkah.
"Saya senang sekali akhirnya saya berangkat. Saya semangat," katanya terbata-bata sambil tersenyum.
Perjalanan Rasia menuju ibadah haji bukanlah kisah yang mudah.
Baca Juga:Cara Mudah Daftar Haji Lewat Pegadaian, Bisa Gunakan Jaminan Emas
Di balik keberangkatannya, ada tahun-tahun panjang yang diisi kerja keras, menahan keinginan pribadi, hingga memilih tidak menyentuh gajinya sepeser pun demi melihat Ka'bah dengan mata sendiri.
Rasia bercerita dirinya pertama kali didaftarkan haji oleh sang majikan sekitar tahun 2011 silam.
Saat itu, ia sebenarnya tidak memiliki cukup uang untuk mendaftar. Namun keinginannya berangkat ke Tanah Suci begitu besar.
"Dulu awalnya saya daftar haji didaftarkan sama bosku. Saya tidak punya uang waktu itu, jadi pakai uang bosku dulu," ujarnya.
Sejak saat itu, Rasia mulai mencicil biaya pendaftaran haji kepada majikannya sedikit demi sedikit.
Tidak ada tabungan besar, tidak ada usaha mewah. Yang ia punya hanya gaji bulanan sebagai pembantu rumah tangga.
Setiap bulan ia menerima upah sekitar Rp1,5 juta. Namun, uang itu nyaris tak pernah ia gunakan untuk dirinya sendiri.
"Tiap jadwal gajian saya kasih uang ke bosku. Saya cicil sama bosku," katanya.
Bahkan, selama bertahun-tahun bekerja, Rasia memilih tidak menikmati hasil jerih payahnya sendiri. Seluruh gajinya langsung diberikan kepada sang majikan sebagai cicilan biaya haji.
![Rasia Jabara Banto, calon Haji asal Papua di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Senin, 11 Mei 2026 bersiap menuju Tanah Suci [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/11/16816-art-naik-haji.jpg)
"Saya tidak sentuh gajiku. Saya langsung kasih semua ke bosku," ujarnya.
Beruntung, selama bekerja ia tinggal di rumah majikannya. Kebutuhan makan dan biaya sehari-hari ditanggung keluarga tempatnya bekerja.
Hal itulah yang membuat Rasia bisa bertahan menjalani hidup dengan sangat sederhana demi mempertahankan impiannya.
"Karena makan dan biaya lainnya saya numpang di rumah bos," tuturnya.
Rasia mengaku bekerja sekitar delapan tahun dengan keluarga tersebut. Selama itu pula, hidupnya dihabiskan untuk mengurus rumah dan memasak bagi anak-anak majikannya.
Meski pekerjaannya sederhana, Rasia tak pernah malu menjalaninya. Baginya, pekerjaan itu justru menjadi jalan yang membawanya lebih dekat dengan impian berhaji.
"Saya pembantu rumah tangga, masak untuk anak majikan," katanya.
Di sela pekerjaannya, Rasia sesekali pulang kampung ke Kabupaten Pinrang.
Ia mengingat pernah sekitar enam kali kembali menemui keluarga di kampung halamannya sebelum akhirnya kini benar-benar berangkat ke Tanah Suci.
Tak ada kemewahan yang menyertai keberangkatannya.
Rasia bahkan berangkat seorang diri tanpa pendamping keluarga. Namun hal itu tidak mengurangi kebahagiaannya sedikit pun.
Ia masih mengingat bagaimana sang majikan dulu ikut mengantarnya saat proses pendaftaran haji pertama kali dilakukan.
"Saya berangkat sendiri. Dulu bosku juga yang antar saya daftar haji," katanya.
Di tengah hiruk-pikuk calon jemaah lain yang sibuk berfoto atau bercengkerama dengan keluarga pengantar, Rasia tampak lebih banyak tersenyum sambil memperhatikan aktivitas di sekelilingnya.
Tidak banyak permintaan yang ia panjatkan menjelang keberangkatannya ke Tanah Suci.
Perempuan 66 tahun itu mengaku hanya berharap diberikan kesehatan selama menjalani seluruh rangkaian ibadah dan bisa kembali ke Indonesia dengan selamat.
"Saya tidak punya doa khusus. Saya cuma mau sehat dan bisa pulang," ujarnya lirih.
Namun, di balik kalimat sederhananya, tersimpan harapan lain yang diam-diam ia bawa dalam perjalanan spiritual tersebut.
Ia berharap tiga orang anak-anaknya kelak juga bisa merasakan jejak langkah yang sama menuju Mekkah.
"Anak pertamaku sudah meninggal. Saya berharap tiga anak-anakku yang masih hidup juga bisa ke Mekkah," katanya.
Bagi Rasia, perjalanan hajinya bukan hanya tentang ibadah. Di usianya yang tak lagi muda, ia membuktikan bahwa mimpi besar tak selalu lahir dari kehidupan berkecukupan.
Kini, setelah penantian panjang itu, Rasia akhirnya berdiri selangkah lebih dekat menuju Tanah Suci. Ia dijadwalkan akan berangkat pada Selasa, 12 Mei 2026, pagi.
Rasia bersama 933 jemaah haji asal Papua yang tergabung dalam Embarkasi Makassar tahun ini didominasi warga keturunan Bugis-Makassar, Sulawesi Selatan.
Berdasarkan data Kantor Wilayah Haji dan Umrah Papua, sekitar 80 hingga 85 persen jemaah merupakan warga keturunan Sulsel yang telah lama menetap di Papua.
Kepala Kanwil Haji dan Umrah Papua, Musa Narwawan mengatakan dominasi tersebut terutama berasal dari warga Bugis dan Makassar yang bermukim di Kota Jayapura dan sejumlah wilayah lainnya di Papua.
Selain keturunan Sulsel, terdapat pula jemaah asal Papua yang berlatar belakang suku Jawa dan Sulawesi Tenggara.
Kata Musa, kuota haji Papua tahun ini terbagi untuk empat provinsi, yakni Papua, Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Selatan. Jumlah kuota tersebut mengalami penurunan dibanding tahun lalu yang mencapai 1.076 jemaah.
Ia menjelaskan penurunan kuota terjadi setelah adanya perubahan sistem pembagian kuota haji nasional.
Jika sebelumnya pembagian didasarkan pada jumlah penduduk muslim di suatu daerah, kini sistem menggunakan skema daftar tunggu sehingga kuota Papua berkurang lebih dari 100 jemaah dan tersisa 933 orang.
Meski demikian, masa tunggu haji di Papua justru mengalami penurunan.
Per 31 Desember lalu, jumlah daftar tunggu haji di Papua mencapai sekitar 26 ribu orang dengan masa tunggu rata-rata 26 tahun.
Seluruh jemaah haji asal Papua tahun ini akan diberangkatkan melalui Embarkasi Makassar dalam dua kloter penuh dan satu kloter gabungan bersama jemaah asal Sulawesi Selatan.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing