- Basri Kinas Mappaseng memaparkan strategi Blue Food di Universitas Hasanuddin untuk mencapai swasembada pangan Indonesia pada tahun 2029.
- PT Agrinas Jaladri Nusantara akan memodernisasi armada dan infrastruktur rantai dingin guna mengatasi masalah distribusi hasil laut nasional.
- Sinergi lintas sektor ditargetkan mendukung program makan bergizi gratis bagi 82,9 juta penerima manfaat di seluruh wilayah Indonesia.
Model ini diharapkan mampu menghapus ego sektoral yang selama ini menghambat integrasi industri perikanan nasional.
AJN mengemban empat mandat utama: modernisasi armada di 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP), revitalisasi 300.000 hektare tambak idle, pembangunan infrastruktur rantai dingin nasional, serta menjadi offtaker bagi nelayan kecil.
Melalui peran sebagai pembeli siaga, AJN diharapkan memberi kepastian harga bagi nelayan sekaligus memperkuat ekosistem kampung nelayan agar lebih berdaya saing.
Dorong Program Makan Bergizi Gratis
Baca Juga:Guru Besar UMI Ungkap Cara Mengatasi Serbuan Ikan Sapu-Sapu
Strategi ini juga terhubung dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2025 yang menargetkan 82,9 juta penerima manfaat.
Dengan kebutuhan protein sekitar 57 gram per porsi, AJN berperan sebagai agregator dan distributor untuk memastikan pasokan ikan menjangkau lebih dari 20.000 titik layanan.
Peran ini dinilai krusial, terutama untuk wilayah terpencil yang selama ini terkendala akses listrik dan fasilitas pendingin.
Peluang Besar bagi Alumni dan Mahasiswa
Basri juga menyoroti kebutuhan sumber daya manusia dalam mendukung transformasi ini.
Baca Juga:Peneliti Ungkap Alasan Ilmiah Ikan Hiu 'Nongkrong' di Pesisir Makassar
Kolaborasi antara AJN dan Universitas Hasanuddin tengah disiapkan, mencakup program magang, riset pengelolaan perikanan, hingga penguatan jejaring alumni berbasis kompetensi.
Kebutuhan tenaga kerja kini bergeser ke arah teknologi tinggi, seperti aquaculture engineer, peneliti akuakultur berbasis IoT, hingga manajer rantai pasok dingin.
Dengan target konsumsi ikan nasional di atas 62 kg per kapita dan produksi mencapai 30 juta ton, visi “Indonesia Biru 2029” dinilai realistis jika didukung sinergi antara pemerintah, BUMN, dan akademisi.
“Swasembada ikan adalah kehormatan kita sebagai bangsa maritim. Saya mengundang mahasiswa dan alumni untuk bergabung dan membuktikan bahwa masa depan Indonesia ada di lautnya,” pungkas Basri.