- Ibrahim dan ribuan anak di Sulawesi Selatan putus sekolah pada Mei 2025 akibat tekanan faktor ekonomi keluarga.
- Tercatat 83.935 anak di Sulawesi Selatan tidak bersekolah dengan jumlah tertinggi berada di wilayah Kota Makassar.
- Pemerintah daerah berupaya menekan angka putus sekolah melalui program sekolah lapang, homeschooling, dan kolaborasi dengan UNICEF Indonesia.
SuaraSulsel.id - Ibrahim (14) seharusnya duduk di bangku kelas tiga SMP. Namun, anak laki-laki di Kota Makassar itu memilih berhenti sekolah dan bekerja sebagai juru parkir liar.
Keputusan itu bukan tanpa alasan. Kondisi ekonomi keluarga memaksanya turun ke jalan.
"Supaya bisa punya uang sendiri," katanya singkat, Sabtu, 2 Mei 2025.
Ibunya sehari-hari mengumpulkan sampah plastik untuk dijual. Ayahnya juga bekerja sebagai tukang parkir dengan penghasilan yang tidak menentu.
Baca Juga:Rayakan May Day, Wali Kota Makassar Ajak Ribuan Buruh Fun Walk di Karebosi
Dalam situasi tersebut, Ibrahim merasa harus ikut menanggung beban keluarga. Sekolah pun ditinggalkan.
Kisah Ibrahim menjadi potret nyata di tengah peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei, ketika akses pendidikan seharusnya menjadi hak semua anak, namun belum sepenuhnya terwujud.
Data Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan menunjukkan angka anak putus sekolah masih tinggi. Mencapai 83.935 orang.
Jika dirinci, sebanyak 9.520 anak putus sekolah di tingkat SD, 9.686 di tingkat SMP, serta 11.973 di tingkat SMA/SMK.
Selain itu, ada pula anak yang lulus tetapi tidak melanjutkan pendidikan. Sekitar 18.383 lulusan SD tidak masuk SMP dan 22.550 lulusan SMP tidak melanjutkan ke SMA.
Baca Juga:Ribuan Ahli Saraf Kumpul di Makassar, Apa Kabar Masa Depan Kesehatan Otak Indonesia?
Kota Makassar mencatat jumlah tertinggi, yakni 25.617 anak. Disusul Kabupaten Bone (9.073), Gowa (7.862), Bulukumba (4.606), dan Pinrang (3.627).
Anak tidak sekolah sendiri terbagi dalam beberapa kategori. Belum pernah bersekolah, putus di tengah jalan, serta lulus tetapi tidak melanjutkan.
Ketiganya mencerminkan persoalan yang berbeda, namun berujung pada hal yang sama, yaitu terputusnya akses pendidikan.
Faktor Ekonomi Jadi Alasan
Sekretaris Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan, Mustaqim menyebut faktor ekonomi sebagai penyebab utama tingginya angka putus sekolah.
Biaya pendidikan yang mencakup seragam, buku, hingga transportasi masih menjadi beban bagi sebagian keluarga.