- Ia melakukannya bukan seminggu atau sebulan, melainkan bertahun-tahun, tanpa banyak bicara.
- Tunggakan dibayar, kekurangan ditutup, dan keyakinan terus dijaga.
- Ia mengajarkan satu hal yang sering kita lupakan: bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi
Di Asrama Haji Embarkasi Makassar, Asis berdiri bukan lagi sebagai penjual ikan keliling, tetapi sebagai tamu Allah.
Ia akan terbang menuju Arab Saudi, membawa serta semua lelah yang pernah ia rasakan, semua doa yang pernah ia panjatkan, dan semua harapan yang selama ini ia genggam erat.
Kisah Asis bukan sekadar cerita tentang haji. Ini adalah potret tentang keteguhan. Tentang bagaimana mimpi besar tidak selalu dimulai dari langkah besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan konsisten.
Ia mengajarkan satu hal yang sering kita lupakan: bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Baca Juga:16 Tahun Kumpul Recehan Hasil Pungut Rumput Laut, Nenek 86 Tahun Akhirnya Berangkat Haji
Justru di dalam keterbatasan itulah, ketulusan diuji dan harapan menemukan jalannya.
Mungkin kita tidak sedang menabung untuk ke Tanah Suci. Mungkin mimpi kita berbeda.
Tapi satu hal yang pasti—jika seorang penjual ikan dengan sepeda tuanya bisa menembus batas keadaan, maka harapan itu selalu punya ruang untuk tumbuh, di mana pun kita berdiri hari ini.