- Seorang gadis asal Lampung bernama Santi mencoba melamar kekasihnya, Alda, di Kabupaten Sinjai pada April 2026.
- Santi menyamar sebagai pria dengan nama samaran untuk menjalin hubungan jarak jauh melalui media sosial sebelumnya.
- Identitas asli Santi terbongkar oleh aparat desa setelah pihak keluarga curiga terhadap gerak-gerik dan mahar tinggi.
SuaraSulsel.id - Warga Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan digegerkan oleh aksi nekat seorang gadis asal Lampung bernama Santi (19).
Ia rela menempuh perjalanan jauh demi melamar kekasihnya, Alda (15).
Perkenalan keduanya dimulai dari melalui media sosial. Namun sayangnya, rencana tersebut berakhir gagal setelah penyamaran calon pengantin pria itu terbongkar.
Peristiwa ini terjadi di Desa Biji Nangka, Kecamatan Sinjai Borong.
Baca Juga:Dukun Viral Lakukan Gerakan Seperti Salat Dipanggil Polisi, Baca Mantra Tak Pantas
Santi datang tidak sendiri. Ia ditemani rekannya, Sintia (15) yang juga menyamar sebagai pria.
Keduanya bahkan memperkenalkan diri dengan nama samaran. Santi mengaku sebagai Mulang dan Sintia sebagai Rifki.
Kapolsek Sinjai Borong, AKP Sudriman Mando mengatakan hubungan Santi dan Alda bermula dari perkenalan di media sosial sekitar setahun lalu.
"Awalnya mereka berkenalan melalui media sosial dan berkomunikasi lewat telepon dan video call. Jadi korban tidak menaruh curiga," ujar Sudriman, Minggu, 12 April 2026.
Seiring waktu, komunikasi keduanya semakin intens hingga menjalin hubungan jarak jauh.
Baca Juga:Waspada Jebakan Cinta Maya! Perempuan di Makassar Kehilangan Motor Setelah Bertemu Teman di Tiktok
Dalam hubungan tersebut, Santi tetap mempertahankan identitasnya sebagai seorang pria.
Keinginan untuk bertemu langsung pun muncul. Santi akhirnya meminta alamat Alda dan memutuskan datang ke Sinjai untuk menyatakan keseriusannya.
Pada Rabu malam, 8 April 2026, Santi dan Sintia tiba di desa tersebut. Mereka langsung menemui nenek Alda untuk menyampaikan niat melamar.
Pihak keluarga yang awalnya tidak menaruh curiga kemudian menggelar pembicaraan keluarga. Dalam pertemuan itu, keluarga Alda menetapkan uang panai atau mahar sebesar Rp250 juta.
Permintaan tersebut menjadi titik balik dari kisah ini.
Santi yang merasa tidak sanggup memenuhi nominal tersebut mulai menunjukkan kegelisahan.