- Yusuf Tangkin, kru kapal Tugboat Mega, selamat setelah tiga hari terjebak di kapal terbalik di perairan Batam pada 6 Maret 2026.
- Ia bertahan hidup di ruang kecil dengan udara terbatas setelah kapal bertabrakan saat manuver kapal kargo besar.
- Hanya dua dari lima kru yang selamat dari insiden tersebut, Yusuf ditemukan oleh tim SAR pada Minggu subuh.
SuaraSulsel.id - Di balik selimut tebal dan plastik yang membungkus tubuhnya, Yusuf Tangkin perlahan membuka mata.
Tubuhnya masih menggigil karena kedinginan setelah berjam-jam terjebak di dalam kapal yang terbalik di tengah laut.
Namun, di wajah pria asal Mandetek, Kabupaten Tana Toraja itu tersungging senyum tipis.
Keberuntungan atau mukjizat masih berpihak kepadanya.
Baca Juga:Tragedi di Timur Tengah: Kapal Tugboat Meledak, Kapten WNI Hilang
Yusuf merupakan salah satu korban selamat dari insiden tenggelamnya kapal tugboat di perairan Batam, Kepulauan Riau.
Ia ditemukan hidup setelah hampir tiga hari bertahan di dalam kapal yang terbalik.
Bagi keluarga dan warga kampung halamannya di Toraja, kabar keselamatan Yusuf terasa seperti doa yang akhirnya terjawab.
"Kami selalu percaya mukjizat Tuhan masih ada bagi setiap orang yang percaya," ujar Rispa, kerabat Yusuf pada Senin, 9 Maret 2026.
Kabar selamatnya Yusuf cepat menyebar hingga ke Tana Toraja. Banyak warga yang tak menyangka pria 57 tahun itu mampu bertahan begitu lama di dalam kapal yang karam.
Baca Juga:Polda Sulsel: Dua Perwira Polres Toraja Utara Akui Terima Uang Narkoba
"Sungguh mujizat Tuhan yang sangat besar," tambahnya.
Saat ditemukan oleh tim penyelamat, tubuh Yusuf dalam kondisi kedinginan dan lemah.
Meski begitu, ia masih sadar dan mampu berkomunikasi dengan tim medis yang menanganinya.
Kini kondisinya terus berangsur membaik dan masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Bagi Yusuf, peristiwa tersebut menjadi pengalaman paling menegangkan sepanjang hidupnya.
Pria kelahiran 1969 itu sehari-hari bekerja sebagai kru kapal tunda Tugboat Mega.
Rutinitasnya biasanya tak jauh dari aktivitas membantu kapal besar bermanuver di pelabuhan.
Namun, Jumat, 6 Maret 2026 sore, rutinitas itu berubah menjadi perjuangan hidup dan mati.
Saat itu Tugboat Mega sedang membantu proses manuver sebuah kapal kargo raksasa berbendera Malta, Kyparissia cargo ship yang hendak bersandar di kawasan galangan kapal PT ASL Shipyard di Tanjunguncang, Batu Aji, Batam.
Tugboat Mega menjadi kapal tunda terkecil dari lima kapal yang terlibat dalam proses tersebut.
Sesuai instruksi Master Jetty, kapal yang ditumpangi Yusuf diminta berpindah dari sisi kiri ke sisi kanan kapal besar.
Namun, saat manuver berlangsung, situasi berubah drastis. Benturan keras tiba-tiba terjadi.
Yusuf menduga kapal mereka tersapu buritan kapal besar atau terdorong arus kuat yang datang mendadak.
"Salah satu kru sempat teriak 'karam, karam!," kenang Yusuf.
Peringatan itu datang hanya beberapa detik sebelum kapal benar-benar terbalik.
Dalam situasi panik, Yusuf sempat berpikir untuk melompat keluar. Namun, semuanya terjadi begitu cepat.
"Waktu itu saya mau lompat ke luar, tapi tidak sempat karena kapal langsung miring. Saya langsung lari ke kamar bawah," ujarnya.
Keputusan itu justru menyelamatkan nyawanya.
Jika ia menuju dek atau ruang mesin, kemungkinan besar dirinya akan langsung terseret air laut yang masuk deras ke dalam kapal.
Di ruang bawah itulah Yusuf akhirnya terjebak saat kapal benar-benar terbalik.
Gelap gulita menyelimuti ruangan itu selamat tiga hari.
Air laut perlahan merembes masuk dari berbagai celah.
Dalam kondisi tersebut, Yusuf hanya bisa bertahan di ruang sempit yang masih menyisakan sedikit udara atau yang dikenal sebagai air pocket.
Selama hampir tiga hari, ia bertahan di sana. Tanpa cahaya, tanpa makanan dan hanya mengandalkan sisa udara dan harapan untuk tetap hidup.
Di tengah keputusasaan, secercah harapan akhirnya datang.
Yusuf mendengar suara ketukan dari luar kapal pada Minggu subuh hari.
Ternyata itu tim penyelam dari tim SAR gabungan sedang melakukan pencarian terakhir. Ia pun membalas ketukan itu dari dalam kapal.
"Saat saya ketuk dari bawah penyelam dengar. Dia tahu saya ada di dalam," katanya.
Tim SAR sudah mengusulkan untuk menutup proses pencarian pada Minggu siang. Namun, momen di subuh hari itu menjadi titik balik dari perjuangan Yusuf bertahan hidup.
Setelah memastikan ada korban yang masih hidup, penyelam kemudian memberikan senter dan tabung oksigen kecil kepada Yusuf sebelum proses evakuasi dilakukan.
Beberapa saat kemudian, pada Minggu pagi sekitar pukul 05.20 Wib, Yusuf akhirnya berhasil dikeluarkan dari dalam kapal.
Ia dievakuasi dalam kondisi sadar, meskipun mengalami sesak napas akibat terpapar tumpahan bahan bakar.
Dari lima kru yang berada di Tugboat Mega saat kejadian, hanya dua orang yang berhasil selamat. Tiga lainnya dinyatakan meninggal dunia.
Mereka adalah Abdul Rahman yang menjabat sebagai kapten kapal, Guntur Pardede selaku chief engineer, dan Johnson Bertuahman Damanik. Ketiganya ditemukan tidak lama setelah insiden terjadi.
Sementara satu kru lainnya, Habib Ansyari berhasil menyelamatkan diri sesaat setelah kapal terbalik.
Bagi Yusuf, keselamatan yang ia rasakan hari ini menjadi anugerah besar yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Di kampung halamannya di Tana Toraja, kerabatnya terus memanjatkan doa agar Yusuf bisa segera pulih dan kembali berkumpul bersama keluarga.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing