Menyala! Busana Penuh Emas Pengusaha Skincare di Makassar Usai Ibadah Haji

Gaya glamor pengusaha skincare di kota Makassar usai melaksanakan ibadah haji

Muhammad Yunus
Senin, 24 Juni 2024 | 11:00 WIB
Menyala! Busana Penuh Emas Pengusaha Skincare di Makassar Usai Ibadah Haji
Gaya pengusaha skincare di Kota Makassar, Nurul Damayana usai melaksanakan ibadah haji menarik perhatian [SuaraSulsel.id/Istimewa]

Walaupun harus menunggu lama, mereka tak masalah. Untuk Sulawesi Selatan misalnya, masa tunggu haji cukup lama. Bahkan bisa mencapai 97 tahun.

"Bagaimanapun kondisi ekonominya, mereka akan berusaha untuk berhaji seperti menjual warisan. Itu banyak dilakukan sekarang," ungkapnya.

Kata Ilham, bagi orang Sulawesi Selatan, masalah haji bukan hanya soal ibadah. Ada yang lebih dari itu, yakni menaikkan strata sosial di masyarakat.

Dulu, strata sosial masyarakat yang paling tinggi hanya disandang oleh keturunan bangsawan. Namun, dengan gelar haji, statusnya dengan masyarakat biasa bisa disamakan.

Baca Juga:Anggota DPRD Sulawesi Selatan Apresiasi Layanan Haji, Sebut Makanan Berlimpah

"Karena berhaji bagi orang Sulsel, bukan hanya soal ibadah, tapi lebih memperlihatkan status sosial yang berbeda," ucap ketua Jurusan Ilmu Sejarah Unhas itu.

Kata Ilham, status haji bisa mengangkat derajat di masyarakat. Nah, salah satu yang dianggap muda untuk mengenali seseorang haji atau bukan adalah dari cara berpakaiannya.

Sebagian besar material pakaian yang digunakan orang berhaji meniru model baju Bodo. Tipis, berbayang dan terlapis. Namun yang identik yakni misbah berenda.

"Ketika mereka pulang, kenapa mereka berdandan, itu ingin memperlihatkan kepada keluarga dan orang-orang di kampungnya bahwa dia sudah beralih status ke haji. Ada identitas baru," kata Ilham.

Hal lain yang bisa diperhatikan adalah gelang emas bersusun di tangan dan baju berwarna cerah yang digunakan. Menurutnya orang-orang seperti itu ingin menunjukan eksistensinya.

Baca Juga:Kloter Pertama Embarkasi Makassar Dijadwalkan Tiba Hari Ini

Namun, menurut Ilham tidak semua daerah di Sulawesi Selatan mengenakan pakaian seperti itu. Hanya dominan di bagian utara Sulsel saja, seperti Pinrang dan Sidrap.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini