Sambil menikmati kenduri, tiba-tiba tempat tersebut dibakar dari luar oleh pasukan Pattiro. Toakala yang punya ilmu sakti berhasil kabur bersama seorang kera hitam yang sedang mengandung, tapi rambut di ekor dan pantatnya terbakar api.
Dari situlah masyarakat percaya kera Macaca Maura yang jadi hewan endemik Sulawesi Selatan tidak memiliki ekor dan rambut di pantat.
Setelah kejadian tersebut, I Bissu Daeng merasa bersalah dan meminta maaf karena kecantikannya sudah membawa petaka. Sejak itu, ia mengutuk seluruh keturunannya untuk berwajah buruk.
Konon ada mitos di dusun Pattiro. Jika ada wanita yang lahir dengan wajah cantik, maka ia tidak akan berumur panjang.
Baca Juga:Daftar Tunggu Haji Kabupaten Bantaeng 47 Tahun, Paling Lama di Sulawesi Selatan
Toakala juga merasa bersalah atas kejadian tersebut. Dengan rasa penyesalan mendalam, ia memilih untuk bertapa di gua Bantimurung hingga mati dan seluruh raganya melebur menjadi batu.
Itulah kenapa gerbang objek wisata Bantimurung dibangun patung kera besar. Tak hanya danau Toakala, di salah satu gua di kawasan taman nasional juga ada namanya gua Toakala. Konon, gua itu jadi tempat pengasingan Toakala sampai ia mati.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing