"Dia bilang pokoknya aman ji, karena ini pak Iqbal orang besar di Makassar. Banyak orang besar di belakangnya. Jadi kalau ketahuan, tetap aman," ungkapnya.
Chaerul kemudian mulai tergiur. Apalagi mereka dijanjikan upah Rp200 juta jika berhasil membunuh korban.
"Rp200 juta dibagi dua. Saya Rp100 juta, Sulaiman Rp100 juta. Tapi ada panjar Rp20 juta," beber Chaerul.
Uang panjar Rp20 juta digunakan untuk biaya operasional. Seperti membeli jaket Maxim untuk penyamaran dan motor. Sementara untuk senjata milik Sulaiman.
Baca Juga:77 Pemuda Ditangkap Pesta Miras, Tangis Pecah di Pelukan Orang Tua
Uang itu diserahkan terdakwa Iqbal Asnan ke Asri. Kemudian Asri menyerahkannya ke terdakwa Sulaiman, yang dilanjutkan ke terdakwa Chaerul.
"Untuk beli jaket dan motor Rp10 juta. Sisanya saya bagi dengan Sulaiman Rp5 juta per orang," ungkapnya.
Kata Chaerul, butuh waktu selama 13 hari untuk mematangkan rencana tersebut. Suatu hari sebelum eksekusi, terdakwa Sulaiman, Chaerul dan Asri bertemu di daerah Jalan Kumala.
Saat itu, Asri memperlihatkan foto wajah dan motor korban. Asri juga menjelaskan rute yang dilalui korban seusai bertugas di wilayah Center Point of Indonesia.
"Tempat eksekusinya tidak diatur, hanya dia (Asri) bilang kalau Najamuddin pagi dan sore tugas di CPI. Kalau pulang lewat rute itu," katanya.
Chaerul mengaku terdesak mengeksekusi korban pada hari Minggu, 3 April 2022. Padahal saat itu hari pertama puasa.