Gubernur Sulsel Andi Sudirman Bawa 2 Kg Tanah Merah Pakai Kendi Ukiran Toraja dan 1 Liter Air ke Ibu Kota Negara

Serangkaian ritual adat akan mewarnai proses dimulainya pembangunan Ibu Kota Negara

Muhammad Yunus
Minggu, 13 Maret 2022 | 17:20 WIB
Gubernur Sulsel Andi Sudirman Bawa 2 Kg Tanah Merah Pakai Kendi Ukiran Toraja dan 1 Liter Air ke Ibu Kota Negara
Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman saat tiba di Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Minggu 13 Maret 2022 [SuaraSulsel.id/Antara]

SuaraSulsel.id - Serangkaian ritual adat akan mewarnai pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Presiden Joko Widodo memerintahkan agar seluruh gubernur hadir dengan membawa tanah dan air dari daerahnya masing-masing.

Khusus Sulawesi Selatan, tanah dan air yang dibawa Gubernur Andi Sudirman Sulaiman berasal dari tempat yang memiliki latar belakang sejarah.

Sekretaris Provinsi Sulsel Abdul Hayat Gani mengatakan, Sudirman membawa tanah dan air yang penuh makna ke IKN. Dua kilo tanah merah diambil di Kabupaten Bone, sementara satu liter air diambil dari kabupaten Gowa.

"Bukan tanah dan air sembarangan. Ada makna dan filosofinya," ujar Abdul Hayat saat dikonfirmasi Minggu, 13 Maret 2022.

Baca Juga:Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil Kumpulkan Tanah dan Air dari 27 Wilayah, Akan Dibawa ke IKN: Ada yang dari Air Keramat

Abdul Hayat menjelaskan tanah itu diambil di Bangkalae, Bone. Tanah ini jadi simbol menyatunya tiga kerajaan besar di Sulsel kala itu.

Kerajaan itu adalah Kerajaan Gowa, Kerajaan Bone, dan Kerajaan Luwu. Walau sempat berseteru, tiga kerajaan ini akhirnya bersatu untuk mengusir penjajah.

"Itu maknanya kenapa tanah diambil di Bangkalae. Itu sejarahnya panjang, ada tiga kerajaan yang menyatu di sana," jelasnya.

Sementara, untuk air diambil dari sumur masjid di Katangka, Gowa. Masjid ini dibangun pada tahun 1603 dan jadi salah satu masjid tertua di Indonesia.

Kata Hayat, sumur tersebut jadi tempat melepas penat bagi Sultan Alauddin. Di masjid tersebut juga jadi bukti peradaban sejarah masuknya agama Islam di Sulawesi Selatan.

Baca Juga:Dari Sleman, Jokowi Terbang ke Balikpapan Kunjungi Titik Nol Kilometer IKN

"Dan sumur itu abadi tidak kering. Masjid Katangka itu juga dahulu kala tidak hanya sebagai tempat ibadah, tapi jadi benteng perlindungan saat perang," ujar Hayat.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini