Profesor Unhas: Disrupsi Digital Sudah Benar-Benar Tiba, Merambah Seluruh Aspek

Indonesia memiliki sejarah sukses dalam memelihara pertumbuhan ekonomi

Muhammad Yunus
Kamis, 23 Desember 2021 | 16:55 WIB
Profesor Unhas: Disrupsi Digital Sudah Benar-Benar Tiba, Merambah Seluruh Aspek
Universitas Hasanuddin menggelar Rapat Paripurna Senat Akademik dalam rangka Upacara Penerimaan Jabatan Profesor, Kamis 23 Desember 2021 [SuaraSulsel.id/Unhas]

SuaraSulsel.id - Guru besar Unhas Prof Muhammad Arsyad menyampaikan dalam pidatonya bahwa disrupsi digital sudah benar-benar terjadi. Bahkan merambah seluruh aspek kehidupan.

Prof Muhammad Arsyad menyampaikan pidato pengukuhan berjudul "Reposisi Ekonomi Pertanian untuk Reduksi Kemiskinan dan Pembangunan Perdesaan: Apakah Masih Pionir di Era Digital?"

Sejumlah paper mencatatkan Indonesia memiliki sejarah sukses dalam memelihara pertumbuhan ekonomi. Selama tiga dekade proses pembangunan.

Yakni pada tahun 1966-1996. Pertumbuhan ekonomi berada pada level rata-rata 7 persen per tahun, reduksi kemiskinan dari sekitar 40 persen di tahun 1976 menjadi 17 persen di tahun 1996.

Baca Juga:3 Calon Rektor Unhas Terpilih, Siapa Dapat Dukungan Menteri Nadiem Makarim?

Di samping prestasi dalam pertumbuhan ekonomi, Indonesia juga mampu menurunkan kemiskinan 40,1 persen di tahun 1976 dan menurun menjadi 17,6 persen di tahun 1996. Meskipun kembali mengalami peningkatan tahun 1997. Persis ketika krisis ekonomi.

Prof Arsyad menjelaskan bahwa disrupsi digital sudah benar-benar tiba dan merambah ke seluruh aspek kehidupan. Tidak terkecuali sektor pertanian atau pedesaan.

Karena itu persoalan pembangunan pedesaan akan semakin kompleks dan volumenya makin bertambah akibat digitalisasi.

Setidaknya ada lima determinan pokok yang berpotensi mempengaruhi indikator pembangunan pertanian/perdesaan, sekaligus dapat diharapkan membantu percepatan pembangunan perdesaan Indonesia, yaitu:

1. Sumber daya manusia petani, Aktivitas Non-Pertanian dan Petani Milenial-Inovatif,
2. Konflik sumber daya lahan dan teknologi pertanian,
3. Akses terhadap fasilitas sosial,
4. Akses informasi dan digitalisasi global pertanian,
5. Kelembagaan dan Aktivitas Ekonomi Pertanian/Perdesaan.

Baca Juga:Unhas Hasilkan 420 Insinyur Baru, Alumni Terbanyak di Indonesia

“Hasil survei menunjukkan bahwa petani dalam rumah tangga tani yang memiliki kepala keluarga berpendidikan SD dan SMP ke bawah memiliki kondisi sosial ekonomi rumah tangga yang berada di bawah standar kesejahteraan, dibandingkan dengan petani yang memiliki pendidikan SMA dan Diploma yang memiliki alternatif sumber pendapatan di luar pertanian karena mereka dengan cepat mengadopsi inovasi lainnya,” jelas Arsyad, Kamis 23 Desember 2021.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini