Balla juga memiliki makna filosofis dalam arsitekturnya. Misalnya, di puncak atap terdapat segitiga yang disebut timbaksela.
Simbol khusus ini menunjukkan kebangsawanan orang yang tinggal di rumah tersebut. Timbaksela yang disusun tiga atau lebih menunjukkan bangsawan, sedangkan segitiga yang tidak memiliki susunan adalah tanda masyarakat biasa.
5. Boyang
Rumah adat suku Mandar ini disebut Boyang. Dulunya, suku Mandar mendiami Sulawesi Selatan. Kini menjadi bagian dari Sulawesi Barat.
Baca Juga:Sebagian Pasien Covid-19 Dirawat di Asrama Haji Makassar Dari Luar Daerah
Sama seperti Balla, Boyang juga berbentuk rumah panggung. Sementara, ada dua tangga yang terletak di bagian depan dan belakang rumah. Jumlahnya juga harus ganjil, antara 7 hingga 13 anakan.
Uniknya, tiang-tiang penyangga tersebut tidak ditancapkan ke tanah, tetapi hanya ditumpangkan ke sebuah batu datar untuk mencegah kayu lapuk. Sementara, dinding rumah biasanya menggunakan papan yang telah diukir sesuai dengan motif khas suku Mandar.
Boyang juga ada dua jenis. Adaq dan Beasa. Adaq merupakan tempat tinggal bagi para bangsawan, sedangkan Beasa diperuntukkan untuk masyarakat biasa.
Rumah Boyang Adaq biasanya diberikan ornamen yang melambangkan identitas tertentu untuk mendukung tingkat sosial penghuninya. Rumah ini memiliki penutup bubungan.
Semakin banyak susunannya, berarti semakin tinggi derajat kebangsawanannya. Sementara, warna rumah kebanyakan menggunakan warna gelap.
Baca Juga:6 Lagu Daerah Sulawesi Selatan, Nomor 6 Pernah Jadi Soundtrack Film
Masih ada juga yang mempertahankan warna asli kayu sebagai bahan bakunya. Selain itu, jika melihat atapnya, Boyang mirip seperti ember yang miring ke depan.