Keunikan Langkanae karena dibangun dengan 88 tiang berbahan utama kayu. Ukuran atapnya juga lebih besar dibandingkan badan rumah.
Rumah adat ini terdiri dari 3 ruangan dengan fungsi yang berbeda-beda. Setiap ornamennya menjadi pembeda untuk setiap kelas sosial.
Ruangan pertama diberi nama tudang sipulung dengan ukuran luas untuk menampung tamu. Kemudian, ruang tengah sebagai tempat privasi keluarga dan beristirahat. Pada ruang ketiga atau ruang belakang, terdiri dari dua kamar dengan ukuran kecil.
Ornamen rumah adat Luwuk juga disebut dengan bunga prengreng. Bunga ini melambangkan filosofi hidup yang menjalar sulur. Artinya hidup tidak terputus-putus.
Baca Juga:Sebagian Pasien Covid-19 Dirawat di Asrama Haji Makassar Dari Luar Daerah
3. Saoraja atau Bola
Suku Bugis dan Makassar sering digabungkan karena memiliki kesamaan budaya antara keduanya. Kedua suku ini sebenarnya serupa tapi tak sama.
Rumah Bugis terdiri dari dua jenis. Tergantung status sosial orang yang tinggal di rumah itu.
Rumah Saoraja (Sallasa) untuk keturunan raja atau kaum bangsawan. Sedangkan Bola untuk masyarakat biasa.
Karateristik rumah adat ini memiliki ciri khas atap yang berbentuk pelana dan memiliki timpalaja. Selain dipengaruhi oleh budaya tradisional, pembangunan rumah adat suku Bugis juga dipengaruhi oleh agama Islam.
Baca Juga:6 Lagu Daerah Sulawesi Selatan, Nomor 6 Pernah Jadi Soundtrack Film
Timpalaja atau disebut gevel (gable) merupakan bidang segitiga antara dinding dan pertemuan atap. Rumah adat Bugis sangat kaya akan filosofi. Tiap bagiannya punya makna tersendiri.