Pada 12 September 1945, bendera merah putih dikibarkan di Lapangan Labukkang, Suppa. Andi Makkasau Parenrengi juga ikut membuat deklarasi Jongayya pada 15 Oktober 1945, yang menyatakan mendukung Indonesia merdeka. Kerajaan Suppa berwilayah di Kota Parepare.
Di daerah kekuasaannya, Andi Makkasau pernah membentuk Badan Organisasi Penunjang Kemerdekaan Indonesia dan cabang Partai Syarikat Islam Indonesia dan Partai Nasional Indonesia.
Ia pernah mengundang tokoh nasional seperti Buya Hamka, AM Sangaji, H. Agus Salim, dan H.O.S Cokroaminoto ke Suppa, untuk memberikan pendidikan politik kepada rakyatnya.
Ketika pasukan Sekutu dan NICA datang, Andi Makkasau mengadakan Konferensi Parepare, 1 Desember 1945.
Ia menyatakan mendukung Sam Ratulangi sebagai Gubernur Republik Indonesia untuk Sulawesi dan menolak kembalinya Belanda di Indonesia.
Baca Juga:Bernilai Rp1,9 Triliun, Waskita Garap Gedung Ikonik Pinisi di Makassar
Itu pula yang ikut mendorong komandan pasukan Belanda di Netherlands memerintahkan Kapten Raymond Paul Pierre Westerling untuk melakukan pembantaian di Sulawesi Selatan.
Serbuan Westerling ke Suppa dihadang dengan gigih oleh pasukan Andi Makkasau.
Namun, senjata yang terbatas dan personel yang kurang membuat laskar Andi Makkasau tidak bisa bertahan lama.
Andi Makkasau tertangkap. Tapi, sekeluarnya dari penjara, ia kembali melawan. Westerling kembali dihadapinya dan lagi-lagi Andi Makkasau tertangkap, lalu ditahan dan dipenjara di Sawitto Pinrang.
Ia disiksa habis-habisan, dan akan dieksekusi. Tapi kematian tak juga mendatanginya. Dalam kondisi hidup, sosok yang terikat dan diberi pemberat dilemparkan ke laut. Ombak laut Mar’bombang menjadi saksi nyata kekerasan hati Andi Makkasau dalam berjuang melawan penjajah Belanda.
Baca Juga:Waskita Bangun Gedung Ikonik Bergaya Pinisi di Sulsel Senilai Rp1,9 Triliun
Di satu sisi, Kementerian Sosial (Kemensos) telah menetapkan sejumlah nama tokoh yang akan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.